Sarat Kejanggalan, Akuisisi Maurel dan Prom oleh Pertamina Berpotensi Merugikan Negara

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA: Belum lama ini Pertamina mencoba mengadu peruntungan dengan mengakuisisi saham Maurel & Prom (MP) dari Prancis sebesar 72,65% kepemilikan saham perusahaan.

Langkah korporasi ini luput dari perhatian publik dimana menurut benerapa pengamat banyak ditemukan kejanggalan dalam proses akuisisi tersebut.

Salah satunya Yudi Christian (pengamat energi), yang mengatakan, walaupun niat mengakuisisi ini sudah ditawarkan sejak 2013, akan tetapi inisiasi pengambil alihan baru dibulan Mei 2016.

Lanjutnya, Menurut sumber di Kemeneg BUMN proses pengambil keputusan sangatlah super cepat, surat dari Board of Commisioner (BOC) perihal pengambil alihan tertanggal 28 Juli 2016 dan pada 29 Juli 2016 surat persetujuan dikeluarkan.

“Dengan berjalannya waktu pada Agustus 2016 Pertamina membeli 24,5% saham Maurel & Prom senilai 201,2 juta euro yang dimiliki oleh Pasifico, perusahaan yang dipimpin oleh Jean Francois Henin, sosok kontroversial dalam bisnis keuangan,” katanya saat di temui di Semarang, Juamat (7/4/17).

Menurutnya, Kebijakan Pertamina dalam membeli saham Maurel & Prom ini dinilai berbagai analis sangatlah sarat kejanggalan, karena proses akuisisi ini terjadi disaat Maurel & Prom tengah berada dalam kesulitan keuangan.

“Sebab asset dan kemampuan perusahaan MP ditengarai sudah terkikis dan tidak mempunyai prospek bisnis kedepannya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya anak perusahaan dan kantor-kantor MP tutup serta bergabung kembali atau merger dengan bekas anak perusahaan yaitu MP internasional serta menghentikan semua usaha eksplorasi. Dan usaha penambangan yang jalan hanya di Gabon dan Tanzania saja, itupun tidak besar,” ujarnya.

Jika dilihat dari laporan keuangan Maurel & Prom untuk 2015, perusahaan Prancis ini sangatlah tidak sehat. Data keuangan EBITDAMP anjlok hampir 200 persen, dimana dari 352 juta euro pada tahun 2014 menjadi 107 juta euro untuk tahun 2015.

“Kemudian hasil penjualan produknya juga mengalami penurunan yang sangat signifikan dari 550 juta euro ditahun 2014 menjadi 276 juta euro untuk tahun 2015. Dan lebih parahnyanya lagi nilai sahamnya anjlok parah, dari 15 maret 2013 sempat menyentuh 14,81 euro/lembar saham, sampai terjadinya proses akuisisi oleh Pertamina awal Agustus 2016 nilai saham Maurel & Prom hanya bernilai 2,85 euro/lembar saham pada Juli 2016,” jabarnya.

Yang lebih mengherankan lagi, menurut Yudi keputusan berani Pertamina membelisaham Maurel & Prom pada angka 4,20 euro/lembar saham dalam mengakuisisi perusahaan Maurel & Prom ini.

Jika dari data diatas saja begitu parahnya nilai saham MP mengalami terjun bebas selama periode 2013 sampai awal Agustus 2016 disaat deal akusisi oleh Pertamina. Dan bahkan lebih parahnya lagi sempat disuspen oleh otoritas bursa Prancis padi Juli 2016 lalu.

Yudi juga menjelaskan Kejanggalan lainnya adalah dalam kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, Pertamina bahkan ingin menambah porsi sahamnya di Maurel & Prom agar dapat menguasai perusahaan tersebut diatas 51% kepemilikan.

Pada 25 Januari 2017 Autorite des Marches Financiers (AMF) Prancis mengumumkan hasil penawaran pembelian saham (tender offer), dan hasilnya adalah per 1 Februari 2016 Pertamina menguasai 64,46% saham Maurel & Prom.

Langkah Pertamina ini merupakan awal dari “tender offer” pertama dimana Pertamina mengendalikan 125.924.574 lembar saham atau 64,46% saham Maurel & Prom.

Selain itu Pertamina juga mengendalikan sebanyak 6.845.626 ORNANE (obligasi yang dapat ditukar dengan uang dan saham) 2019, atau setara dengan 46,70 persen dari “outstanding” ORNANE 2019 serta akan memegang 3.848.620 ORNANE 2021 yang setara dengan 36,88 persen dari “outstanding” ORNANE 2021. Dimana pembayaran kepada pemilik ORNANE akan dilakukan pada saat penyelesaian transaksi sekaligus penyerahan ORNANE kepada perusahaan dengan nilai 17,28 euro per ORNANE 2019, yaitu nilai nominal plus bunga sebesar 0,02 euro dan 11,05 euro per ORNANE 2021, yaitu nilai nominal plus bunga sebesar 0,03 euro.

Yang lebih mengejutkan lagi, hasil dari pembukaan kembali “tender offer” selanjutnya pada 9 Februari 2017, perusahaan migas pelat merah Indonesia ini kembali memperoleh saham dan obligasi (obligasi ditukarkan dalam bentuk tunai dan / atau saham baru dan / atau yang sudah ada: “Ornanes 2019” dan “Ornanes 2021”) dari Maurel & Prom, 15.987.365 lembar saham Maurel & Prom, 790.213 Ornanes 2019 dan 510.530 Ornanes 2021 yang telah ditenderkan.

LSecara total, pada akhir penawaran tersebut, Pertamina menguasai 141.911.939 lembar saham Maurel & Prom atau setara 72,65%. Dengan kepemilikan saham Maurel &Prom 72,65% ini, Pertamina mempunyai kendali penuh atas perusahaan swasta Prancis tersebut,” ujarnya.

Menurut Yudi, yang menjadi permasalahan adalah aksi korporasi Pertamina ini dinilai tidak sesuai dengan perhitungan bisnis. Dengan neraca keuangan yang terus turun dan anjloknya saham Maurel & Prom sampai saat ini yang hanya bernilai 3,38 euro/lembar saham (Bloomberg 7/4/2017), Pertamina terancam kerugian yang sangat besar.

“Dan jangan heran suatu saat nanti saham Pertamina di Maurel & Prom akan sangat tidak berharga sama sekali,” imbuhnya.

Yudi menambahkan, jika dilihat dari laporan keuangan yang ada pada situs Maurel & Prom. Dengan adanya indikasi kerugian tersebut, akuisisi oleh Pertamina yang merupakan kebijakan korporasi, maka semua direksi yang terlibat sejak awal proses hingga terjadinya akuisisi Maurel & Prom wajib dimintakan pertanggungjawaban.

Kebijakan ini juga merupakan bentuk abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh direksi Pertamina. Dan bahkan ada kemungkinan terjadinya praktek korupsi dalam proses terjadinya akuisisi Maurel & Prom.

“Jadi sudah sewajarnya untuk menepis kecurigaan ini harus ada audit investasi dari BPK agar akuisisi ini menjadi terang benderang. Dan publik juga harus dijelaskan bahwa yang Pertamina akuisisi bukanlah perusahaan negara Prancis melainkan milik swasta,” pungkasnya. (Sigit)