Si Hitam, Pembawa Musibah atau Berkah?

KANALINDONESIA.COM, SEMARANG: Menurut sebagian orang, hewan ini dianggap sebagai pembawa musibah karena seringnya digunakan sebagai hewan ritual atau hewan mistis. Mereka beranggapan bahwa dengan memelihara atau memakan daging hewan ini sama dengan mendatangkan kesialan karena identik dengan makhluk ghaib. Namun, untuk sebagian masyarakat justru sebaliknya. Memelihara hewan ini dapat mendatangkan berkah yang luar biasa karena keunikan dan kehitamannya. Semakin hitam dan merata warna hitamnya maka semakin mahal pula harganya. Ya, hewan itu adalah Ayam CEMANI.

Cemani merupakan salah satu hewan ternak lokal provinsi Jawa Tengah tepanya dikaresidenan Temanggung. Hewan dengan ciri khas warnanya yang eksotik ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pecinta unggas. Selain diburu untuk dijadikan hewan sesaji, Ayam Cemani juga dicari untuk dipelihara sebagai hewan peliharaan untuk hobi.

Ditempat asalnya yaitu Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, hewan yang (katanya) berdarah hitam ini dibudidayakan untuk dijual sebagai hewan hobi hingga untk dikonsumsi. Beberapa penelitian berpendapat bahwa ayam cemani selain memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ayam petelur maupun pedaging untuk dikonsumsi. Salah satu peternak ayam cemani yang sudah banyak makan garam yaitu Bapak Nur Faizin dari Kecamatan Kedu Temanggung mengatakan bahwa permintaan pasar mancanegara untuk ayam jenis ini sangat tinggi dan ayam yang di eksport tersebut sebagian dikonsumsi dinegara tujuan.

Menurut Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Temanggung, pada tahun 2011 populasi ayam cemani adalah 16.977 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa populasi ayam cemani di daerah asalnya tergolong sedikit dibandingkan ayam jenis lain. Sehingga dibutuhkan perhatian khusus dari pemerintah dan akademisi khususnya mengingat potensi besar yang dimiliki oleh hewan hitam ini.

Potensi ayam cemani

Arif Zaidatul Munir, Salah seorang peternak muda yang juga putra dari bapak Nur Faizin merupakan peternak yang memiliki pengetahuan baik tentang ternak ayam cemani. Diusianya yang baru menginjak 23 tahun, pria yang sering disapa “mas Arif” ini sudah banyak mendapatkan penghargaan dalam peternakan. Ayam cemani peliharaannya hingga saat ini mencapai 1000 ekor dan sudah banyak dieksport ke luar negeri khususnya kawasan Asia Tenggara.

Pria yang juga memelihara dan membudidayakan beberapa jenis unggas unik ini mengatakan bahwa harga ayam cemani miliknya pernah ditawar hingga Rp. 50.000.000/ekor. Dia menambahkan bahwa beberapa tahun belakangan ternak ayam miliknya sudah banyak diteliti oleh mahasiswa maupun dosen dari UGM, UNDIP, dan UNSOED dari aspek kandungan gizi daging, telur, aspek ekonomi, bahkan genetisnya.hal ersebut menurutnya sangat penting untuk pengembangan ternak ayam cemani dimasa yang akan datang.

Potensi yang luar biasa dari ayam lokal khas Jawa Tengah ini menunjukkan bahwa ayam cemani sudah tidak lagi hanya sebagai hewan ritual yang dijadikan sesaji dalam acara adat, namun juga dapat dijadikan ladang penghasilan yang potensial bagi para peternak khususnya peternak ayam.

Perhatian dari Pemerintan dan akademisi sangat diperlukan guna pengembangan peternakan ayam cemani yang merupakat aset lokal yang dimiliki jawa Tengah.

 

 

Achmad Rofii

Penulis adalah:  Mahasiswa Magister Biologi Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang