Puasa Itu Mudah dan Ringan

 

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

KANALINDONESIA.COM: Hari ini kita kaum muslimin kedatangan tamu agung yang dinantikan sejak 11 bulan yang lalu. Dialah Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan. Bulan yang kedatangannya dirindu dan kepergiannya ditangisi. Bahkan andai mungkin, betapa indahnya jika keseluruhan bulan adalah bulan Ramadhan.

Ada satu pernyataan Allah yang menarik di dalam rangkaian ayat-ayat yang mewajibkan puasa di bulan Ramadan ini. Pada Q.S. Al-Baqarah: 185, diantara pernyataan Allah berkaitan dengan puasa, tiba-tiba Allah seperti menyela:

يُريدُ اللَّهُ بِكُمُ اليُسرَ وَلا يُريدُ بِكُمُ العُسرَ

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Ini tentu pernyataan yang menarik. Betapa tidak? Tidak sedikit diantara kita yang menganggap ibadah puasa itu berat. Kalau ibadah lain seperti shalat dan zakat sih tak masalah. Tetapi, kalau harus puasa? Puasa sih kuat, yang tidak kuat itu menahan lapar. Sakit maag pasti kambuh kalau Ramadhan datang.

Pertanyaannya: apakah kewajiban puasa itu memang bersifat “menyiksa” kita?

Para ulama –dipelopori oleh Imam Al-Juwaini dan Imam Al-Ghazali—sepakat bahwa ajaran Islam bertujuan memelihara 6 hal pokok: agama (hifzhuddin), jiwa (hifzhunnafs), akal (hifzhul‘aql), harta (hifzhul mal), keturunan (hifzhulbanin), dan kehormatan (hifzhuljah). Oleh karena itu, setiap syariat Islam pasti memerhatikan dan tidak boleh mengabaikan ke-6 hal pokok ini. Demikian juga halnya dengan puasa.

Puasa memang sangat berkaitan erat dengan urusan makan, minum, dan kesehatan; yang itu berkaitan dengan aspek “jiwa” (hifzhun nafs) dari ke-6 hal pokok di atas. Oleh karena itu, pasti dan tidak boleh puasa yang diwajibkan kepada kita mengancam nyawa kita, hingga kita binasa karenanya. Dan bukankah kita tidak pernah mendengar dalam sejarah, seseorang meninggal dunia karena berpuasa?

Sebagian orang menganggap puasa dapat menyebabkan kontraksi perut (hunger contraction), dimana perut melilit-lilit karena lapar hingga pada tingkatan nyeri. Tetapi sebenarnya, kontraksi itu hanya terjadi jika lambung kosong dari makanan antara 12 – 24 jam.

Bagaimana halnya dengan “kosongnya lambung” ketika berpuasa? Pada waktu puasa lambung kita memang akan kosong. Tetapi, kekosongan itu hanya sekitar 10 jam saja. Jika kita sahur pukul 3.30 pagi, maka makanan yang masuk ke lambung kita akan diproses selama 4 jam dan kemudian masuk ke usus halus. Artinya, lambung kita akan kosong pukul 7.30. Jika kita berbuka pada pukul 17.30, maka itu artinya kekosongan lambung kita hanyalah sekitar 10 jam saja. Oleh karena itu, kekhawatiran berpuasa akan membuat tubuh “nyeri” atau sakit adalah kekhawatiran yang tidak berdasar.

Di samping itu, dalam keadaan tubuh tidak kemasukan sesuap nasipun, tubuh manusia masih memiliki cadangan energi yang disebut glikogen, yang dapat membuat kita bisa bertahan selama 25 jam.

Walhasil, syariat puasa di dalam Islam itu sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia dengan segala kemampuan dan keterbatasan. Oleh karena itu, syariat pasti tidak akan dibebankan kecuali sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia. Bukankah Allah tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kemampuan dan usahanya?

Oleh karena itu, kalaupun ada perilaku ekstrem dalam berpuasa, pasti bukan datang dari syariat Islam. Seperti puasa ngrowot yang hanya makan selain nasi atau makanan pokok, puasa mutih yang hanya makan sekepal nasi sehari penuh, puasa 3 hari penuh, dan lain-lain. Puasa-puasa itu tentu bukan syariat Islam. Perilaku ekstrem itu tidak sesuai dengan karakteristik agama ini yang ummatan wasathan, yang tengah-tengah, yang tidak melampaui batas dan tidak pula sembrono.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga rahmat dan ampunan Allah dilimpahkan kepada kita dalam Ramadhan tahun ini. Dan kita kelak lepas dari Ramadhan sebagaimana bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Aamiin

“Disarikan dari berbagai sumber.”

 

Penulis : Bahtiar Hayat Suhesta
Penulis : Bahtiar Hayat Suhesta