Melihat Mudah dan Ringannya Puasa dari 3 Asas

 

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

KANALINDONESIA.COM: Allah menghendaki kemudahan dan keringanan bagi kita dalam berpuasa dan tidak bermaksud membebani kita dengan kewajiban yang berat melampaui kemampuan kita sebagai manusia. Ayat Q.S. Al-Baqarah: 185 menyiratkan hal itu sebagaimana sudah disampaikan pada tulisan terdahulu.

Di sisi lain, mudah dan ringannya berpuasa ini juga bisa dilihat dari 3 asas penerapan hukum Islam. Ketiga asas itu adalah berangsur-angsur / gradual (tadrij fit tasyri’), tidak adanya kesulitan (adamul haraj), dan menyedikitkan beban (taqlilut takalif).

Puasa disyariatkan secara gradual(tadrij fit tasyri’) sebagaimana asas yang pertama, yakni bertahap dari yang ringan menuju penuh satu bulan lamanya. Semula puasa belum diwajibkan ketika Nabi dan kaum muslimin masih di Makkah. Kemudian ada kewajiban puasa Asyura, sehari dalam setahun. Lalu puasa 3 hari dalam sebulan. Baru kemudian kewajiban puasa Ramadan diturunkan pada tahun ke-2 semenjak hijrah ke Madinah. Itu pun pada awalnya boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah, meski kemudian pilihan tersebut dihapus dengan mewajibkan puasa bagi sekalian kaum muslimin.

Syariat puasa Ramadan juga sesuai dengan prinsip kedua: tidak adanya kesulitan (adamul haraj). Ini tercermin pada “fleksibelnya” kewajiban puasa itu. Kita bisa lihat pada Q.S. Al-Baqarah: 184-185, ada tiga kelompok muslimin terkait dengan kewajiban puasa.

Pertama, orang yang sakit atau bepergian; boleh tidak berpuasa, dan menggantinya di hari yang lain.

فَمَن كانَ مِنكُم مَريضًا أَو عَلىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِن أَيّامٍ أُخَرَ

“… maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Kedua, mereka yang bisa menjalankan puasa, tetapi sangat berat karena suatu sebab yang tidak bisa dihilangkan, seperti tua-renta, sakit yang melumpuhkan, dan sebagainya. Mereka boleh tidak berpuasa, tidak mengganti di hari yang lain, dan cukup membayar fidyah.

وَعَلَى الَّذينَ يُطيقونَهُ فِديَةٌ طَعامُ مِسكينٍ

“… dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”

Dan ketiga, mereka yang tidak bepergian, tidak sakit, dan kuat menjalankan puasa, baginya wajib menjalankan puasa sebulan penuh.

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهرَ فَليَصُمهُ

“… barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Dari kedua ayat di atas kita lihat meskipun puasa itu wajib, tetapi ada rukhshah (keringanan) bagi yang berhalangan boleh tidak menjalankan ibadah puasa dengan menggantinya di hari yang lain atau membayar fidyah jika memang tidak mampu lagi secara fisik menjalankannya.

Fleksibilitas yang lain bisa kita lihat dalam hal bagaimana selama berpuasa kita masih diperbolehkan (lepas dari ikhthilaf atau perbedaan pendapat yang ada):

  1. Mandi dengan mengguyur kepala, keramas. Bahkan menyelam pun boleh. Yang tidak boleh itu satu saja: sambil menyelam minum air.
  2. Mencium istri, bersentuhan, memeluk, asal bisa menahan syahwatnya
  3. Berkumur-kumur
  4. Berbekam
  5. Mencium bau sedap
  6. Mencicipi masakan, asal tidak ditelan
  7. Menelan ludah, memasukkan ingus

 

Bahkan jika orang Nashrani tidak ada syariat untuk sahur dan juga tidak boleh mencampuri istri di malam hari puasa, syariat Islam boleh malam hari main “petak-umpet” dengan istri kita dalam bulan Ramadhan.

أُحِلَّ لَكُم لَيلَةَ الصِّيامِ الرَّفَثُ إِلىٰ نِسائِكُم ۚ هُنَّ لِباسٌ لَكُم وَأَنتُم لِباسٌ لَهُنَّ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”(Q.S. Al-Baqarah: 187)

Jadi, semua “fleksibilitas” ini menunjukkan tidak adanya kesulitan (adamul haraj) dalam menjalankan ibadah puasadi bulan Ramadhan.

Puasa kita juga berprinsip menyedikitkan beban (taqlilut takalif). Artinya, sebagai manusia biasa ini, kita bisa dan mampu menjalankan syariat puasa itu. Puasa itu sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Betapa tidak?

  1. Kita disunahkan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka
  2. Meneruskan puasa jika lupa makan atau minum di siang hari puasa
  3. Dilarang puasa dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka
  4. Tidak dibolehkan puasa menahun
  5. Tidak ada tapa brata, tapa pendem, puasa 40 hari berturut-turut
  6. Kalau tidak kuat, sakit, bepergian, atau halangan lainnya, boleh tidak berpuasa

 

Semua itu menunjukkan bahwa puasa di dalam Islam itu meski memiliki aturan yang baku, tetapi fleksibel, luwes, lunak, tidak ekstrem. Puasa kita tidak dimaksudkan untuk menyiksa kita, di mana semakin tersiksa semakin banyak pahala. Tidak demikian. Puasa adalah manifestasi ketaatan yang bisa dijalankan dengan perasaan senang dan gembira.

Jadi, dari pemberlakukan syariat puasa ini kita bisa melihat bagaimana agama Islam itu sebenarnya mudah dan ringan. Kita saja yang kadang cenderung melebih-lebihkan. Misalnya, kita bepergian tetap berpuasa meski tidak kuat. Akhirnya pingsan. Ini sih salah kita sendiri tidak mengambil rukhshah.

Sekali lagi, kesemuanya itu menunjukkan bahwa puasa itu mudah, bukan menyiksa, dan memang demikianlah yang dikehendaki Allah, sebagaimana firman-Nya yang telah disampaikan pada tulisan terdahulu,

يُريدُ اللَّهُ بِكُمُ اليُسرَ وَلا يُريدُ بِكُمُ العُسرَ

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Wallahu a’lam.

“Disarikan dari berbagai sumber.”

Bahtiar Hayat Suhesta
Bahtiar Hayat Suhesta