Penanaman Blimbing Di Mojowarno Syarat Rekayasa Dana DD, Bapemas Tutup Mata

ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Penanaman bibit blimbing di Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang, ternyata di tanan di atas lahan milik perhutani Jombang. Lahan seluas 2 Hektar tersebut ditanami bibit blimbing yang diduga merupakan hasil pembelian dari uang Dana Desa (DD), dari sejmlah Desa yang dikordinir oleh pihak kecamatan.

Hal ini diungkapkan oleh Agus (28), selaku warga masyarakat setempat, saat ditemui kanalindonesia.com, pihaknya menjelaskan,” memang bahwa bibit blimbing itu di tanam diatas lahan milik perhutani yang selama ini dikelola oleh masyarakat. Karena waktu itu saya juga sempat diajak untuk rapat membahas masalah itu namun, saya tidak mau karena nanti akan muncul masalah, mengingat sumber pembelian bibit blimbing itu tidak jelas,” ujarnya.(31/05/2017)

Saat ditanya apakah pembelian bibit blimbing itu dibeli dengan menggunakan uang DD, pihaknya mengatakan,” kalau soal itu saya kurang tau mas, yang jelas bibit itu di drop dari pak Camat Samsun ( red : Camat Mojowarno), setelah ditanam nanti yang akan membeli ya pak Camat sendiri, jadi masyarakat hanya merawat bibit blimbing itu sampai siap panen,” tegasnya.

Ketika di tanya soal adakah memorandum of understanding (MOU) antara pihak-pihak terkait, mengingat bibit blimbing tersebut bersumber dari DD, dan ditanam oleh warga di atas tanah milik perhutani, Agus menjelaskan bahwa MOU antara pihak-pihak terkait tidak ada.” Tidak ada MOU mas,” tukasnya.

Dari data yang dihimpun kanalindonesia.com, pembelian bibi tersebut dianggarkan melaui DD dengan dalih program pemberdayaan masyrakat, dan diajukan pada pengajuan DD tahun 2015, dan dilaksanakan pada tahun 2016, oleh sejumlah Desa.

Dikonfirmasi secara terpisah salah satu Kepala Desa, di Mojowarno yang namanya enggan dipublikasikan, mengatakan bahwa pembelian bibit blimbing itu dianggarkan 15 juta untuk program pemberdayaan masyarakat yang diajukan pada usulan DD 2015, dan direalisasikan pada tahun 2016. “ memang itu dianggarkan pada dan DD sebesar 15 juta, dan dimasukkan dalam program pemberdayaan masyarakat, untuk membeli blimbing. Namun saya tidak membuat karena saya ragu, apakah diperbolehkan uang DD untuk beli bibit blimbing,” tukasnya sembari mewanti-wanti namanya dipublikasikan.(31/05/2017)

Sementara itu Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ), yakni Joko Fattah Rochim, menuding bahwa ketidak jelasan dan carut marutnya soal bibit blimbing yang diduga dibeli dengan DD, merupakan keteledoran dari Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (Bapemas Pemdes), yang selama ini tidak piawai dalam menjalankan tugasnya untuk mengawasi dan membina Desa dalam menggunakan DD.

“ itu murni yang bertanggung jawab adalah kepala Bapemas Pemdes, karena soal penggunaan dana DD itu sudah menjadi tugasnya dalam mengarahkan Desa untuk menggunakan DD. Kalau DD digunakan beli bibit blimbing apakah boleh, hal itu dilakukan, dan dasar hukumnya apa?, belum lagi itu tanahnya kan milik perhutani, kalau tidak ada MOU, bisa saja nanti tanaman blimbing itu di klaim milik perhutani, nah kalau itu terjadi siapa nanti yang rugi?, “ paparnya.(31/05/2017)

Lanjut Fattah,” makanya saya menduga ini ada yang tidak beres dengan pihak kecamatan yang dengan sengaja mengarahkan serta mengkordinir, pembelian bibit blimbing, di Blitar itu, bisa jadi ini memang ada permainan antara distributor bibit blimbing dan pihak kecamatan, dan bisa jadi Bapemas tahu hal ini namun hanya diam seolah-olah tidak tahu,” katanya.

Imbuh Fattah,” maka dari itu saya mendesak pada aparat penegak hukum untuk segera lidik pengadaan bibit blimbing di Kecamatan Mojowarno, dan pada Bupati saya desak untuk mencopot Kepala Bapemas, karena gagal dalam menjalankan fungsinya mengelola dan membina Desa di Jombang,” pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Evi selaku Kabid Pembangunan Bapemas Pemdes Kabupaten Jombang, melalui telepon seluler oleh kanalindonesia.com, terkait penggunaan dugaan rekayasa dan DD untuk membeli bibit blimbing, yang terdengar hanya nada sambung, dan tidak diangkat.(elo)