LKNU Temukan Ratusan Penderita TBC di Wilayah Kabupaten Kediri

dr Esty Febryani (foto: gendut marmoyo)

KANALINDONESIA.COM, KEDIRI: Penderita Tuberculosa ( TBC ) wilayah Kediri pertahun mengalami peningkatan dan saat ini pihak Lembaga Nahdlatul Ulama (LKNU) program Community Empoeerment of People Against Tuberculosis berhasil menemukan sedikitnya 428 penderita yang berusia produktif antara 20 sampai 35 tahun.

“Hanya tiga minggu saja kami melakukan penelitian, sudah kita temukan sampai 5 ribu penderita TB baru se-Indonesia. Kalau bicara Indonesia angkanya 395 per populasi penduduk atau kurang lebih 1 juta pertahun kasus baru,” ungkap dr. Esty Febryani, MSi, chief of Party, Pimpinan Program CEPAT-LKNU dalam closing program di Hotel Insumo Kediri, Senin (24/07/2017).

Ditanya jumlah kasus di Kediri, pihaknya menyebut ada 428 kasus TB baru yang ditemukan selama 5 tahun terakhir. Jumlah ini merata di setiap kecamatan baik di Kota maupun Kabupaten Kediri. Sementara paling banyak ditemukan di Kecamatan Wates dan Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Terpisah Niswatus Syarifah, pimpinan program CEPAT-LKNU Kediri mengatakan, penemuan terhadap para penderita TB dilakukan melalui pelacakan pada penderita-penderita yang sudah sembuh, utamanya di daerah kantong yaitu Kecamatan Semen dan Wates. Kader LKNU yang ada di tingkat kecamatan melakukan wawancara dan pencocokan data di masing-masing Puskesmas.

“Kita cari data dari Puskesmas-Puskesmas. Siapa-siapa saja penderita TB ini, dan yang sudah sembuh. Lalu kita lacak mereka dengan cara wawancara. Hasilnya kita koordinasikan dengan pemerintah daerah,” jelas Ninis, sapaan Niswatus Syarifah.

Jumlah yang ditemukan ini, menurut dr. Esty Febriani, bagian kecil dari data penderita TB sebenarnya. Sebab, dukungan LKNU di Kediri hanya menjangkau sekitar 15 kecamatan saja. Sehingga, ia yakin jumlah riil jauh lebih besar.

Untuk itu, dr. Esty berharap para penderita bisa proaktif untuk memeriksakan dirinya. Adapun gejala penyakit ini sangat mudah untuk diketahui yaitu, terjadinya batuk berdahak terus menerus selama dua minggu tanpa berhenti, serta berkeringat di malam hari.

“Jika merasa mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera periksa ke dokter maupun Puskesmas terdekat. Jangan khawatir, karena pengobatan penyakit TB ini gratis,” tegas dr. Esty.

Penyakit TB sangat mudah menular. Sebab, penularannya hanya melalui udara. Yaitu, percikan ludah dari penderita yang terbawa udara hingga sampai ke penderita lainnya bisa menularkan penyakit ini.

Dijelaskan dr. Esty, penderita yang sudah dinyatakan positif TB harus menjalani perawatan rutin, yakni mengkonsumsi obat selama 6 hingga 8 bulan. Penderita yang telat minum obat, akhirnya menjadi resisten atau kebal terhadap obat. Sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit. (Gendut marmoyo /aka)