Karangwungu Sentra Bakul Jamu di Lamongan

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Kalau kita mendengar kata Jamu tentu yang ada di benak adalah rasa pahit. Namun hal itu tidak berlaku pada jamu produksi masyarakat Desa Karangwungu Karanggeneng, Lamongan, yang menyajikan berbagai bahan jamu seperti kunir asam, beras kencur, jahe, temulawak, kunir putih, sari rapet dan komplit pegel linu.

Meski jamu kemasan produksi pabrikan menjamur di pasaran, ternyata tak menggerus keberadaan jamu gendong. Jamu berbahan empon-empon berkhasiat obat ini masih banyak diminati masyarakat. Hal ini karena jamu yang diproduksinya berasal dari tumbuh-tumbuhan tanpa zat pengawet, zat pemanis, zat pewarna dan perasa. Apalagi masyarakat di Desa Karangwungu masih setia menekuni usaha ini dan menjual dengan cara mider (berkeliling) dari kampung ke kampung

Usaha yang dirintis oleh masyarakat Karangwungu merupakan warisan turun temurun masyarakat desa setempat. Puluhan pedagang yang berjualan jamu semua rata rata tidak tahu sejak kapan masyarakat disini menjual jamu.

“Saya berjualan jamu ini sudah lama, meneruskan pekerjaan orang tua, saya tidak tahu sejak kapan masyarakat disini menjual jamu”, tutur mak siti.

Hampir tiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB para pedagang jamu tersebut berangkat menjajakan jamunya keberbagai tempat bahkan ada yang sampai di wilayah Kabupaten Gresik.

“Sebetulnya penghasilan jadi buruh tani itu lebih tinggi hasilnya, tapi kami tetap mempertahankan warisan orang tua kami”, tambah Mak Siti ketika ditemui awak media yang sedang berjualan.

“Harga jual jamu tergantung dari wilayah tempat berjualan. Kalau berjualan disekitar Lamongan, segelas jamu harganya Rp 2000. Namun jika di luar Lamongan bisa Rp 5000- pergelas,” papar Mak Siti lagi.

Dari segi penghasilan, berjualan jamu sebetulnya bukan pekerjaan yang menguntungkan karena modal yang digunakan hampir sama dengan hasil penjualan akan tetapi hanya cukup untuk perputaran kegiatan produksinya.

“Meski tidak bisa nyugehi (membuat kaya) dari berjualan jamu bisa nguripi atau menghidupi,” ujar Siti penuh rasa syukur. (Omdik)