Tanaman Garbis Gagal Panen Karena Hama, Petani Beralih Tanam Semangka

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Desa Latukan Kecamatan Karanggeneng Lamongan sangat terkenal dengan tanaman buah Garbis (blewa) dan semangka serta melon. Beberapa petani yang bertahun-tahun menanam blewa setiap musim kemarau tiba akhirnya musim ini berganti secara mendadak berganti menanam semangka seiring wabah kutu kebul (Bemista Tabaci) yang melanda hampir 400 hektar lahan yang ditanami tanaman garbis (blewa).

Sekretaris Desa Latukan Karanggeneng, Arif Hidayah (37) mengatakan beberapa tahun lalu hampir semua petani menanam garbis (blewa) walaupun tidak semuanya karena ada yang menanam semangka dan melon. Akan tetapi dari separuh dari luas lahan pertanian di Desa Latukan ditanami garbis (blewa). Kini para petani banyak yang meninggalkan tanaman garbis (blewa) yang sudah hampir berumur 50 hari dan beralih menanam semangka.

“Saat ini, masyarakat petani buah langsung meninggalkan tanaman garbis (blewa) nya yang mestinya sudah berbuah seberat 2 kg, namun kenyataannya baru segenggam tangan anak-anak untuk beralih menanami areal persawahannya dengan tanaman semangka, meski ada juga yang bertahan dengan merawat tanaman garbis (blewa) yang masih diselamatkan,” terang Arif Hidayah, Minggu (3/9/2017).

Seperti yang pernah diberitakan kanalindonesia.com beberapa waktu yang lalu petani garbis (blewa) di Desa Latukan dan sekitarnya meradang karena tanamannya terserang hama kutu kebul (Bemista Tabaci).

Hama kutu kebul menyerang tanaman melalui daunnya, biasanya kutu kebul menyerang di bagian bawah daun pada tanaman dengan cara menghisap cairan yang ada didalam daun itu sendiri, selain dari itu kutu daun juga menularkan penyakit terhadap tanaman yang diserangnya, ada beberapa virus yang ditularkan oleh hama kutu daun diantarnya virus gemini dan virus mosaik.

Tanaman yang sudah terserang oleh hama ini biasanya akan mengalami keritingnya bentuk daun, dengan selanjutnya daun akan menguning dan kemudian akan rontok, selain daripada itu tanaman akan cenderung sulit untuk tumbuh atau kata lain tanaman akan mengalami kerdil sehingga produksi pada tanaman akan terganggu bahkan akan menurunkan atau bahkan tidak berproduksi sama sekali atau fuso.

“Saya baru mengalami tahun ini, sebelumnya tidak pernah sampai begini”, kata Asikin (40) salah satu petani. Dia terpaksa beralih menanam semangka karena memanfaatkan cuaca yang masih bisa mengejar tanam untuk tanaman semangka. “Kerugian petani blewa, semangka dan melon itu nampak apabila tanaman kita kalau gagal panen karena biaya pembelian bibit dan obatnya cukup mahal”, tambah Asikin.

“Musim kemarau menjadi andalan para petani blewa namun faktanya hama kutu kebul (Bemista Tabaci), padahal tanaman blewa sesuai umur mestinya sudah mendekati panen. Daripada tidak ada hasil, para petani lebih memilih meninggalkan tanaman blewa dan menanam tanaman lain yakni semangka,” tuturnya.(Omdik)