Manfaatkan Kotoran Sapi Dan Blotong Micin, Warga Kadiren Kalitengah Jadi Pengusaha Pupuk Organik

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Kegiatan pertanian dan perkebunan yang diusahakan secara terus-menerus yang diiringi dengan penggunaan pupuk buatan tanpa diimbangi usaha pengembalian bahan organik ke dalam tanah, dapat mengakibatkan penurunan kandungan bahan organik tanah dengan cepat, sehingga produktivitas tanahnya menjadi semakin rendah. Oleh karena itu sangat penting artinya menambahkan bahan organik ke dalam tanah, baik melalui pengembalian sisa panen maupun pemberian pupuk organik berupa kompos matang atau “pupuk organik siap guna” yang beredar di pasaran.

Banyak di sekitar kita berbagai limbah yang mampu mengembalikan dan menjaga keseimbangan unsur-unsur tanah sebagai tempat tanaman tumbuh. Dari sinilah Warga Desa Kediren Kalitengah yang bernama Sunarko melirik limbah tersebut untuk dibuat pupuk. Di mata Sunarko, limbah kotoran sapi dan limbah pabrik Micin (blotong micin) merupakan berkah yang tak ternilai harganya. Betapa tidak, dengan keahliannya, ia mampu mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomis tinggi.

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya.

Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

Menurut Sunarko ketika ditemui awak media ini Selasa, (12/9/2017), mengatakan bahwa cara membuat pupuk ini tidak terlalu sulit.

Awalnya, Kotoran sapi dicampur dengan blotong micin  yang diambil dari limbah pabrik micin, Kotoran sapi harus dikeringkan terlebih dahulu beberapa hari. Lalu, kata dia, kotoran sapi dibawa ke tempat pengolahan, di sana kotoran sapi dicampur blotong micin,  dolomite, fosphat,  serbu siolid bakar dan fermentasi urine sapi kemudian diaduk agar merata, pengadukan menggunakan mesin aduk.

Dituturkannya juga, pupuk organik kotoran sapi dan blotong micin ini berfungsi sebagai penggembur tanah, pembenah tanah, dan menyimpan kadar air lebih lama.

“Tak hanya di pertanian, pupuk organik ini biasa digunakan di petani tambak, untuk memupuk lahan tambak ikan,” tukas Sunarko.

Dalam satu bulan, Sunarko mengaku bisa memproduksi 700 ton pupuk organik yang siap jual ke beberapa daerah bahkan ke Kalimantan dan Papua.

Diketahui, Desa Kediren Kecamatan Kalitengah Lamongan sendiri banyak terdapat warga yang memelihara sapi, dan menghasilkan limbah kotoran sapi. Kotoran sapi tersebut banyak mengganggu masyarakat karena dibuang sembarangan. Berawal dari ide inilah pria yang juga bekerja sebagai tenaga teknis di kapal pelayaran tersebut membuat usaha pembuatan pupuk organik untuk mengurangi kotoran hewan tersebut.

Sunarko sendiri menggeluti usaha pengolahan limbah ini sejak tahun 2013. Modalnya sendiri berasal dari pinjaman dari bank. Dan kini, kata Sunarko, utang itu sudah lunas. Selain itu, Sunarko juga membantu masyarakat sekitar yang sebelumnya menganggur, kini mendapatkan pekerjaan (Omdik)