PDI Perjuangan Di Bully Komunis, Apa Langkah DPC PDI-P Lamongan?

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Adanya tindakan Pengujar Kebencian atau penghinaan terhadap Partai PDI Perjuangan yang dilakukan, Md, salah satu oknum guru SMP Muhammadiyah 15 Brondong, Kabupaten Lamongan, membuat geram para pengurus DPC PDI Perjuangan.

Pengurus DPC PDI Perjuangan langsung memanggil palaku untuk dimintai keterangan atas perbuatannya melakukan penghinaan terhadap Partai PDI-P, Kamis (21/9/2017).

“Kami sebelumnya sudah memanggil Md, dan punya bukti Screnshoot kata kata penghinaan yang dishare si grup whatsup (WA). Disitu dia melakukan penghinaan kalau partai PDI-P adalah sarang para komunis atau PKI,” jelas Sekertaris DPC PDI-P Lamongan, Saim.

Namun pengurus DPC PDI Perjuangan Lamongan, memilih untuk tidak melaporkan pelaku pengujar kebencian yang tersebar di grup WhatsApp.

“Kami memberi maaf karena semata-mata kemanusian, karena isteri pelaku itu sakit kanker stadium empat, maka, kembali pada persoalan kemanusian ini kita maafkan,” Kata Saim.

Saim menjelaskan, DPC PDI Perjuangan telah memberi maaf, karena beberapa pertimbangan. Md, pemilik nomor yang melakukan pengujaran kebencian di WA grup, sudah meminta maaf dengan datang ke kantor PDI Perjuangan sebanyak dua kali.

“Pelaku ini minta maaf kepada seluruh kader PDI Perjuangan di Kabupaten Lamongan dan umumnya Kader PDI Perjuangan seluruh Indonesia. Dia juga berjanji tidak mengulangi lagi, setelah ini Pak Md juga akan membuat tulisan minta maaf di grup WA Buletin Wahas,” tambahnya.

Lebih jauh, Saim menegaskan, salah besar jika PDI-P merupakan tempat sarang komunis/PKI. PDI-P adalah partai dengan ideologinya Pancasila, maka komunis adalah musuhnya.

Sementara disisi pelaku Md mengaku khilaf dengan membagikan tulisan yang mengaitkan PDI Perjuangan sebagai sarang komunis.

“Beberapa hari yang lalu saya khilaf, saya tidak membaca secara jernih kemudian saya share saja, saya gak kefikirian apa saya share ke grup Buletin Wahas 1. Kemudian saya hubungi pak Adhim, saya kaget saya gak kepikir itu, semuanya adalah karena khilaf,” ujar guru SMP Muhammadiyah 15 Brondong

Ia menjelaskan, mendapatkan tulisan itu dari grup SMA di Tuban. “Tidak ada kesengajaan, saya fikiran agak kacau, ada masalah keluarga istri saya kena kanker. Ini copasan dari grup lain, saya tidak mikir lagi, tanpa baca langsung saya bagikan,” ucapnya. (Fer)