Miris Lengan Seorang Pelajar SMP Retak, Karena Jadi Korban Pengroyokan Kakak Kelas

korban ditemani ibunya saat menunjukkan foto hasil rontgen

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Sungguh miris jika memperhatikan kondisi MRM (13), seorang pelajar asal Dusun Sukotirto, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Pelajar kelas VII SMPN 2 Ngoro tersebut menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.

Akibat peristiwa ini, tulang pergelangan tangan kanan bocah mungil tersebut mengalami retak, namun yang lebih parahnya lagi hinnga kini korban tak mau berangkat kesekolah karena masih mengalami trauma.

”Anak saya sudah satu minggu tidak bisa ke sekolah, kata dokter tulang tangannya ada yang retak,” kata Samutri (56), ibu bocah yang kini hanya bisa bersedih meratapi nasib anak bungsunya tersebut, Kamis 12 Oktober 2017.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kadi (76) ayah dari bocah malang tersebut, saat ditemui sejumlah wartawan pihaknya mengaku bersedih karena luka tangan yang diderita anaknya tak kunjung sembuh. Maksud hati hendak membawa kerumah sakit namun pihaknya mengaku tak mempunyai biaya untuk berobat.

”Mau kami rujuk ke rumah sakit, tapi saya juga bingung dengan biayanya dari mana, untuk pengobatan kemarin saja kami sudah cari hutang,” ujar Kadi.

Saat disinggung bagaimana awal mula terjadinya pengroyokan tersebut, bocah berwajah polos tersebut menceritakan, bahwa pada hari Jumat 6 Oktober 2017 lalu, dirinya seperti biasa berangkat ke sekolah pukul 06.40 WIB.

Setibanya di sekolah MRM merasa haus dan hendak pergi ke kantin sekolah untuk membeli minuman, namun secara tiba-tiba MRM dihadang oleh tiga kakak kelasnya, yakni FR (14), AG (14), serta AY (14). Tanpa bertanya ketiganya langsung memberikan bogem pada MRM berkali-kali, dibagian kepala. Karena kalah jumlah dan tidak tahu sebabnya MRM hanya pasrah saat menjadi bulan-bulanan kakak kelasnya.

Selanjutnya melihat korban yang tidak melawan, ketiga kakak kelasnya tersebut menyeret MRM ke dalam kantin, bukan untuk berhenti memukuli korban, namun justru ketiga kakak kelasnya tersebut semakin menjadi-jadi. Bukan hanya dipukul MRM juga ditendang bertubi-tubi. Meski banyak pelajar yang menyaksikan kejadian tersebut, namun tidak ada satupun yang melerai.

“”banyak yang melihat, tapi semua tidak ada yang berani menolong, mungkin karena ketakutan akan dihajar seperti saya mas,” ungkap MRM sembari menahan sakit.

Masih menurut penjelasan MRM, setelah tak kuat mendapat pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh kakak kelasnya, korban lantas memilih untuk melarikan dir. Namun sungguh sangat disayangkan upaya yang dilakukan korban justru malah membuat para pelaku menjadi semakin brutal. ”Saya berusaha lari, tapi terus dikejar terus saya ditendang dari belakang sampai saya jatuh terjungkal,” terangnya.

Lanjut MRM, salah satu dari mereka mendatangi korban sembari mengatakan agar MRM merahasiakan kejadian tersebut, jika sampai bocor atau pihak sekolah tahu, mereka akan mengroyok korban lagi.” ”Saya diancam, kalau ditanya suruh bilang habis jatuh, kalau tidak saya bakal dihajar lagi yang lebih parah,” paparnya.

Ketika disinggung apakah pelaku pengroyokan itu jumlahnya hanya tiga orang, MRM menuturkan bahwa pelakunya ada 7, namun yang ia kenal dan ketahui namanya hanya 3.” Ada sekitar tujuh anak, tapi saya tidak kenal yang lainnya mas,” tegasnya.

Setelah babak belur menjadi bulan-bulanan kakak kelasnya MRM masuk ke ruang sekolah sembari menahan rasa sakit karena patah pergelangan tangannya. Karena ada luka-luka lebam dan MRM merintih kesakitan salah satu guru menanyakan apa yang dialami oleh korban, namun karena takut dengan ancaman kakak kelasnya, MRM mengaku bahwa dirinya baru saja terjatuh.

”saya sempat ditanya guru, saya bilang saja habis jatuh, sebab saya diancam akan dipukuli lagi kalau mengadu pada guru-guru mas,” tandasnya.

Karena tak tahan menahan rasa sakit di pergelangan tangannya, MRM memilih untuk ijin pulang, dan dirinya diantar tukang kebun sekolah pulang kerumahnya. Sesampainya di rumah, korban menceritakan kejadian pengeroyokan tersebut kepada keluarga. Selanjutnya orang tuanya mengantar MRM berobat ke puskesmas.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak petugas Puskesmas, diketahui hasilnya bahwa, selain hampir sekujur kepalanya timbul benjolan serta pinggangnya yang lecet. Ternyata MRM juga mengalami keretakan tulang pada bagian lengannya.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah, dan yang lebih anehnya 7 orang pelaku pengroyokan yang tidak lain adalah kakak kelasnya korban sendiri, belum mendapatkan sanksi. Sungguh ironis mengingat Kabupaten Jombang adalah Kota Layak Anak, namun kekerasan terhadap anak masih saja kerap terjadi.(elo)