Dua Kepala Daerah Terapkan Tekhnologi Jagung di Lamongan

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Pencanangan lumbung benih jagung di lamongan mulai tampak titik terang. Bagaimana tidak, banyak sudah kepala pemerintahan daerah di Indonesia mulai belajar jagung ke Kabupaten Lamongan.

Seperti yang terlihat pada Rabu (1/11/2017) kemarin, Mohammad Salahudin seorang petani jagung sukses juga selaku Kepala Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Lamongan, dampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, Bupati Kutai Kartanegara, Wakil Bupati Buol Sulawesi Tengah melakukan Panen raya di Desa Bulubrangsih, Kecamatan Laren.

Jagung yang dipanen itu bagian dari penerapan teknologi jagung modern yang sedang digalakkan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

“Prestasi (jagung) di Lamongan ini agar dijadikan contoh untuk seluruh kabupaten di Indonesia. Karena itu saya harapkan Lamongan bisa memberikan pengaruh bagi perkembangan pertanian jagung di seluruh Indonesia, “ tutur Kiai Ma’ruf.

Perhatiannya yang besar itu karena sejalan dengan program MUI untuk melakukan pemberdayaan ekonomi umat.

Ra’is Aam PBNU yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan akan mencanangkan pesantren di indonesia menanam jagung. Seperti halnya yang di lakukan pemerintah Lamongan dengan kemajuan benih jagung yang unggul.

Sementara menurut Mohammad Salahudin Sumber daya alam produksi padi di lamongan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Diketahui produksi jagung sebelumnya hanya 372.162 ton, kini di tahun 2017 naik menjadi 526.000 ton.

“Produksi jagung di lamongan naik dari 300 ribu ton menjadi 526 ribu ton. Maka dari itu produksi jagung lamongan disoroti daerah lain di indonesia. Bahkan produksi jagung di lamongan terbesar di indonesia,” jelas Kades Banyubang di sela-sela acara istigosah dan panen raya di Desa Bulubrangsih, Kecamatan Laren.

Dia menjelaskan, dalam arus lama, yang dibangun adalah konglomerat. Dengan maksud supaya netes ke bawah.

Tapi ternyata tidak menetes. Yang atas makin kuat, yang bawah makin rusak. ‘’Termasuk warung-warung masyarakat “roboh” semua karena ada toko modern,’’ jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, sistem pembangunan harus diubah. Dimulai dengan pemberdayaan umat sebagai bagian terbesar dari bangsa ini.

‘’Ini sebagai upaya proporsionalitas, bukan diskriminatif. Dengan pilar utama ekonomi syariah dan pusat pemberdayaannya ada di pesantren-pesantren,’’ tuturnya.

Setelah melihat program jagung modern Pemkab Lamongan berhasil, dua Kepala daerah Kutai Kartanegara dan Buol Sulawesi Tengah itu mengadopsi teknologinya. Sehingga mereka nantinya bisa panen jagung dengan produktivitas paling rendah 9,6 ton dan tertinggi 11,4 ton per hektare.

“Targat saya untuk mencapai rata – rata 10 ton per hektare. Tapi ternyata di beberapa tempat seperti di Kedali ini sudah bisa di atas 10 ton per hektare dan keuntungan petani hitungannya bisa naik 3 kali lipat,’’ jelas Abdullah Batalipu Wakil Bupati Buol Sulawesi Tengah.

Modernisasi pertanian jagung selama ini meliputi metode penggunaan teknologi pertanian, pengolahan tanah, pola tanam, penggunaan benih unggul, pemupukan yang dengan dosis yang tepat dan pengguna. (Fer)