Kiprah Kyai Amin Benteng NKRI dalam Perang Surabaya

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Selama ini, sejarah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia lebih banyak diwarnai oleh narasi tentang pejuangan militer. Tokoh-tokoh pejuang yang hadir dalam sejarah nasional Indonesia, lebih banyak didominasi oleh para jendral militer yang mengangkat senjata.

Padahal, dari sekian catatan sejarah tentang perjuangan kemerdekaan, ada senarai kisah para kiai dan santri pesantren yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan.

Sebagian kisah para pejuang kemerdekaan dari pesantren seolah tersingkirkan dari panggung sejarah Indonesia. Naskah sejarah yang ditulis pada masa Orde Baru, atau pasca peristiwa 1965, bahkan tidak banyak yang menghadirkan sejarah pesantren dalam arus utama perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Padahal, ada banyak kiai dan ulama yang dengan gigih menggerakkan santri, memobilisasi massa, mengangkat senjata dan terjun langsung ke medan laga.

Salah satu Kiai yang berjuang dengan ikhlas, adalah KH. Muhammad Amin Musthofa, atau yang dikenal Kyai Amin atau Mbah Min dari Tunggul, Paciran, Lamongan, yang saat itu sebagai komandan Hizbullah dalam peristiwa 10 November.

Kiprahnya cukup legendaris sampai sekarang. Bahkan saat itu ada stasiun radio yang menyiarkan bahwa KH Amin adalah seorang yang tidak mempan senjata maupun peluru saat bertempur di Surabaya.

Bahkan, dia juga dikabarkan tidak mati, meski dilempari bom delapan kali. Siaran inilah yang membuat kepulangan KH Amin ke Tunggul disambut oleh 3000-an orang untuk meminta ijazah ‘kekebalan’ darinya. Kondisi ini tentu saja membuatnya marah.

“Beliau mengatakan tidak mati karena bomnya meleset,” kenang H. Mahbub Junaidi, salah satu cucu KH Amin.

KH. Muhammad Amin Musthofa lahir pada tahun 1910 M di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, putra KH. Musthofa Abdul Karim (pendiri Pondok Tarbiyatut Tholabah Kranji) dan Nyai Hj. Aminah. KH Muhammad Amin tutup usia pada usia 39 tahun tepatnya tanggal 13 Ramadan tahun 1949 M.

Wafatnya KH Muhammad Amin dikarenakan ditembak oleh penjajah Belanda di Desa Dagan Solokuro Lamongan sehingga dikebumikan di desa tersebut.

KH Muhammad Amin adalah pendiri Pondok Pesantren Al Iman wal Islam yang kemudian dikenal dengan Pondok Pesantren Al-Amin Tunggul, Paciran, Lamongan.

Sebagai wujud penghargaan atas jasa beliau maka Pemerintah Kabupaten Lamongan mengabadikan nama beliau menjadi nama salah satu jalan di Lamongan. (Omdik)