Kejati Jatim Tetapkan 16 Peternak Pacitan Jadi Tersangka Dugaan Korupsi KUPS

Marvel, Kasi Pidsus Kejari Pacitan

KANALINDONESIA.COM, PACITAN: Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menetapkan 16 orang dari 18 peternak sapi di Kabupaten Pacitan menjadi tersangka dugaan kasus korupsi Kredit Usaha Peternakan Sapi ( KUPS ) senilai Rp 5,3 miliar.

Ke enam belas peternak yang telah ditetapkan sebagai tersangka yaitu Effendi; Ari Triwibowo; Muh Asmuni; Sutrisno; Wily Taufan; Ali Arifin; Susilo Sukardi; Kardoyo; Suramto; Supriyadi; Sugiyanto; Gatot Sunyoto; Sartono; Suwarno; Setyadi dan Endro Sukmono.

Kasipidsus Kejari Pacitan, Marvel saat ditemui reporter kanalindonesia.com menjelaskan,” memang ini merupakan perkara yang ditangani Kejati, namun sebagian anggota tim berasal dari Kejari Pacitan. Saat ini Kejati Jatim menitipkan ke16 tersangka di Rutan Medaeng guna memperlancar pemeriksaan,” ucapnya, Selasa (14/11/2017).

Kasus dugaan korupsi ini bermula saat tahun 2010 lalu pemerintah meluncurkan program usaha pembibitan melalui Kredit Usaha Peternakan Sapi (KUPS) melalui Bank Jatim Cabang Pacitan.

Guna mendapatkan kucuran kredit tersebut, ke 18 peternak membentuk kelompok KUPS dengan nama Agromilk I yang diketuai Efendi dengan Sekretaris Ary Wibowo dan Bendahara Moch. Asmuni serta para anggotanya yakni Kardoyo, Sutrisno, Ali Arifin, Susilo Sukardi dan Wily Taufan.

Sedangkan kelompok ternak yang kedua bernama Agromilk II dengan ketua Suramto, Sekretaris Supriyadi, bendahara Eko Budi Satriyo dan anggota masing-masing Gatot Sunyoto, Basuki Rakhmat, Endro Susmono, Sugiyanto, Setiadi, Suwarno dan Sartono.

“Ke 18 peternak itu, adalah kelompok ternak baru, sedangkan kedua kelompok ternak itu tidak terdaftar di Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan. Namun mereka tetap mengajukan kredit masing-masing Agromilk I mendapat Rp 3.995.000.000. Sedangkan Agromilk II mendapat Rp 1.381.000.000 dari Bank Jatim Cabang Pacitan,” tegasnya.

Penggunaan kredit untuk pembelian sapi, biaya kandang, pakan, obat-obatan, inseminasi dan pemasangan chip.
Khusus untuk pembelian sapi dana dibayarkan langsung oleh pihak Bank Jatim kepada perusahaan penyedia sapi yang telah ditunjuk kelompok. Setelah mendapat kredit dan mendapatkan sapi, diduga para tersangka tidak berpengalaman memelihara sapi. Akibatnya sapi tidak dipelihara dengan baik. Dengan alasan ada yang sakit dan beberapa yang mati akhirnya para peternak menjual semua sapi tersebut tanpa mengganti sesuai yang dipersyaratkan dalam akta kredit.

“Dari ke 18 peternak itu hanya dua orang yakni Eko Budi Satrio dan Basuki Rakhmat yang sudah membayar ke pihak Bank Jatim dengan senilai sapi yang dia jual. Sehingga kedua peternak itu untuk sementara tidak ditetapkan tersangka, jadi ada 16 tersangka,” pungkas Marvel. (Bc)