Kericuhan Warnai Eksekusi Pembebasan Lahan Tol Ngawi-Kertosono

KANALINDONESIA.COM, NGAWI: Merasa ganti rugi yang diberikan pemerintah dianggapnya masih sangat murah, Keluarga Munawar Muhammad Suradi warga RT 1 / RW 6, Dusun Gunting 1, Desa Dempel, Kecamatan Geneng Ngawi, Jawa Timur menolak  eksekusi pembebasan lahan miliknya  untuk  pembangunan tol Ngawi-Kertosono, Rabu(15/11/2017).

Lahan seluas 3.574 meter persegi dan bangunan yang berdiri diatasnya tersebut oleh pemerintah seluruhnya dihargai Rp 2 miliar dengan rincian harga tanah Rp 148 ribu per meter persegi dan harga bangunan Rp 500 ribu per meter.

Puluhan petugas dari Polres Ngawi yang disiagakan sejak awal dilokasi langsung mengevakuasi paksa pihak keluarga tereksekusi dari dalam rumah.

Aksi tarik menarik dengan petugas kepolisian terjadi dan beberapa anak Muhamad Munawar Suradi menolak keras jika rumahnya dibongkar paksa dengan alat berat dan memilih bertahan didalam rumah.

“Harga segitu mana cukup buat beli tanah dan bangun rumah dan masjid, gak cukuuuup,” teriak Munir (40), menantu Kyai Suradi yang berusaha menolak dievakuasi dari rumahnya, Rabu (15/11/2017).

Munir menuturkan pihak keluarga meminta harga disamakan dengan daerah lain, yakni Rp 1,2 juta/meter.

“Kita minta harga sama dengan daerah lain satu juta duaratus ribu per meter. Ndak cukup uang segitu buat bangun,” tegas Munir.

Seperti diketahui eksekusi lahan dan bangunan tersebut mendasar keputusan Pengadilan Negeri (PN) Ngawi Nomor 34/Pdt.P.Kons/2017/PN.Ngw dan Nomor 35/Pdt.P.Kons/2017/PN.Ngw tertanggal 02 November 2017 sebagaimana yang dibacakan Djasman selaku Ketua Panitera PN Ngawi.

Menurut Djasman, proses eksekusi itu sendiri bentuk konsinyasi yang dititipkan di PN Ngawi dari lahan seluas 3.574 meter persegi milik lahan Muhamad Munawar Suradi.

“Sebetulnya yang dibutuhkan ini kan bukan bangunanya melainkan tanah. Karena hak atas lahan ini sudah dicabut maka kami eksekusi setelah uang penggantinya ada di kas kepaniteraan PN Ngawi,” terang Djasman.(dik)