Ribuan Pisang dan Puluhan Ambeng Tersaji Dalam Tradisi Mauludan di Desa Durenan Magetan

KANALINDONESIA.COM, MAGETAN: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,atau biasa dikenal oleh masyarakat Jawa dengan Muludan, di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan berbeda dengan tempat- tempat lainnya.

Ada yang unik cara memperingati Maulid Nabi di Durenan ini. Warga desa sejak pukul 07.00 WIB, mereka sudah berkumpul di Masjid Baitun Nursadin, RT 18/ RW 04 untuk menggelar sholawatan yang digelar sehari penuh. Dengan irama khas Sholawatan tempo dulu, mereka bergantian membaca kitab sholawat.

Pada Pukul 09.00 WIB, kegiatan istirahat sejenak, sambil menikmati jadah ketan (makanan khas orang dulu) dan minum kopi.

”Jadah ketan ini hidangan pagi, saat jam istirahat, sejak dulu ya begitu, hidangannya jadah ketan, diberi parutan kelapa dan bubuk, sambil minum kopi,”jelas Mohammad Siis, yangmemimpin Sholawatan, Jumat(01/12/2017).

Menurut penjelasan Romlan, salah satu tokoh pemuda Durenan, hidangan jenis ketan, mengandung makna filosofi agar kita bisa seperti ketan itu, putih, bersih dari dosa, pulennya diartikan bisa tetap erat dan saling mempererat tali silaturahmi.

”Pulen itu kan ulet, kencang, semoga bisa seperti itu, bisa mempererat tali silaturahmi antar warga dan sesama,” jelasnya.

Tak selesai hanya disitu, setelah sholat Jumat, mereka pulang sebentar untuk mengambil pisang, mereka membawa setangkap pisang ditaruh dalam waskom (tempat beras) ditaruh ditengah- tengah lantai masjid, bahkan jika ada yang satu rumah tiga anggota keluarga, mereka pun membawa tiga waskom.

Setelah pukul 14.00 WIB sholawat selesai, ribuan pisang itu kemudian dibagi ke seluruh warga, sampai rata, tak satupun yang ketinggalan.

”Pisang ini setelah diberi doa oleh jamaah sholawatan, langsung dibagikan ke seluruh warga, tak terkecuali janda, semua dapat, bahkan jumlahnya pun harus sama, jika dapat tujuh ya harus tujuh semua pisangnya, tidak boleh banyak sebelah,”tambah Romlan.

Saat ditanya kenapa buahnya harus pisang, Romlan menjelaskan, jika itu sudah tradisi sejak jaman nenek moyangnya, pisang adalah tanaman yang jika belum berbuah dan dipotong akan terus tumbuh lewat bagian batangnya, itu memiliki arti filosofi jadilah manusia akan terus tumbuh berkembang sampai dia menghasilkan dan dapat memberi manfaat bagi orang lain. Selain itu Desa Durenan juga merupakan penghasil pisang.

”Ya ini sudah dari jaman dulu, secara simbol pisang itu kan terus tumbuh.agar manusia bisa meniru pohon pisang, terus tumbuh dan berkembang dan bisa memberi manfaat bagi orang lain, selebihnya ya kita hanya melestarikannya,”jelasnya.

Puncaknya, usai sholawatan dan membagikan pisang, mereka pulang lagi ke rumah, kali ini untuk mengambil ambeng.

Ambeng dalam istilah jawa waskom berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Jangan heran, lauk pauknya pun sangat istimewa, semua memakai menu utama ayam panggang (ingkung).

”Puncaknya ya ini mas, setelah membagikan pisang, mereka pulang mengambil ambeng untuk dibawa ke masjid dan disantap bersama- sama disini, bayangkan setiap orang menghadap ambeng satu, sangat Istimewa sekali pokoknya jika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di desa kami,” pungkasnya. (Choiri)