Sebanyak 12 Ton Bahan Baku Pil PCC Distok dari Cina dan India

Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru P ( foto: Ndi_kanalindonesia.com)

KANALINDONESIA.COM, SEMARANG: Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan sebanyak 12 ton bahan baku pil Paracetamol Caffeine Caresoprodol (PCC) di stok dari sindikat internasional yang berada di Cina dan India.

Menurut Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru P menyatakan bahan baku untuk pembuatan pil setan tersebut didatangkan dari Cina dan India dalam jumlah besar.

“Bahan baku untuk pil PCC jumlahnya ada 12  ton. Untuk saat ini, pemasoknya sedang diburu oleh petugas gabungan Polri dan BNN,” ungkap Tri  Agus, kepada kanalindonesia.com, Rabu (06/12/2017).

Hal tersebut bukan isapan jempol belaka mengingat berdasarkan penyelidikan yang dilakukan petugasnya, Djoni maupun Wildan yang jadi pemilik pabrik pil PCC kedapatan memiliki paspor untuk berpergian ke dua negara tersebut.

Menurutnya, bahan baku parasetamol dipasok dari sindikat yang ada di India sedangkan, untuk cafeinnya berasal dari Cina.

Ia mengungkapkan di dua negara itu selama ini bahan baku pil PCC kerap dijual bebas ditengah masyarakat. Malahan, sebuah kota di Cina secara terang-terangan memproduksi zat prekusor. Bentuknya Zat-zat adiktif yang dibuat di dalam home industry.

“Tapi ketika sampai ke Indonesia justru banyak digemari dan permintaannya sangat banyak. Ini yang kita sesalkan selama ini,” ujarnya

Pemesan pil PCC terbanyak berasal dari Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Ia mengatakan masih mengusut penyelundupan bahan baku pil PCC sampai ke Semarang.

“Ini akan terus dikembangkan termasuk masuknya bahan baku ke Semarang,” terangnya.

Pihaknya dalam waktu dekat akan merancang tim satgas untuk menggelar sidak di semua apotek yang ada di wilayahnya. Sebab, tidak menutup kemungkinan pil PCC juga dijual bebas di apotek. Razia terpadu bakal melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dan Balai POM Semarang.

Jika ada yang terbukti menjual bebas pil PCC, ia mengancam bakal menjerat dengan UU Kesehatan.

“Kita akan bentuk tim untuk merazia setiap apotek karena tidak menutup kemungkinan pil itu juga dijual di apotek. Tentunya kita tetap berkoordinasi dengan Balai POM dan bersinergi dengan Dinkes untuk melakukan pengawasan di lapangan,” bebernya. @ Ndi