Rumah Tradisional, Yang melahirkan 3 Generasi Kepala Desa di Gresik

MASIH TEGAR BERDIRI: Rumah H. Soejono di Desa Lowayu Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik yang pernah menjadi tempat tinggal 3 generasi Kepala Desa dari Kakek hingga cucu. Foto: Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. GRESIK; Rumah tua yang dibangun sejak tahun 1936 atau di masa zaman sebelum masa kemerdekaan hingga kini masih berdiri kokoh dan terawat sangat baik. Itulah rumah yang saat ini dihuni oleh H. Soedjono (70). Di tangannya rumah tua ini masih tetap berdiri kokoh bahkan menjadi peninggalan antik.

Rumah tersebut berada  di  Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.

Di daerah tersebut Ini bukan satu-satunya  bangunan rumah tua yang sangat terawat, karena rumah saudaranya yang bernama Soeyani (72) juga masih terawat hanya pada atap saja mengalami perubahan. Rumah terlihat dari mulai pintu masuk sampai ruangan di dalamnya masih terbuat dari jati. Terlebih lagi terdapat banyak ukiran khas jaman dulu.

Menurut Soeyani, bahwa rumah ini merupakan warisan dari orang tua mereka karena pada waktu itu kakek dan orang tua mereka adalah seorang kepala desa dan bahkan H. Soejono yang juga adik kandung Soeyani pun adalah seorang mantan kepala desa juga.

Sudah tidak dipungkiri pada jaman dahulu para pejabat terutama kepala desa akan memiliki rumah yang sangat besar dikandung memiliki maksud yang lain, bisa untuk tempat pertemuan atau kegiatan yang lainnya.

H. Moh. Yato (49) Kepala Desa Lowayu yang ditemui kanalindonesia.com mengatakan pemilik rumah tersebut merupakan keluarga berpengaruh bagi masyarakat Desa Lowayu ini terbukti orang tua dan kakek H. Soejono dipercaya masyarakat Desa Lowayu memimpin desanya, mulai dari H. Jayadi memimpin Desa Lowayu sebelum kemerdekaan hingga 1965, dilanjutkan oleh H. Afandi (1965-1981) dan terakhir H. Soejono (1981-1991).

Masih dikatakan H. Moh Yato, kelihatannya tidak ada bagian dari bangunan rumah ini yang diubah, hanya mengecat ulang dinding dan  menggunakan lantai keramik. Dan ini semua yang merawat H. Soejono bersama istrinya.

“Rumah tersebut sangat terawat bahkan beberapa perabot di dalamnya masih asli, semua furniture yang ada didalam rumah ini terbuat dari kayu jati, mulai dari kursi meja, pintu dan jendela, semuanya peninggalan jaman dulu dan tidak diganti,” katanya.

Selain itu, satu keunikan lain yaitu di dalam rumah tersebut ada benda yang bernama “gorda” atau garuda. Sejak sepuluh tahun yang lalu gorda ini sering diarak keliling kampung saat sedekah bumi Desa Lowayu namun hanya 5 tahun sekali seiring masa jabatan kepala desa. Jadi satu masa kepemimpinan kepala desa hanya satu kali “mengarak” gorda keliling desa.

“Ini sudah menjadi kesepakatan warga Desa Lowayu, saya sebagai pemimpin dari amanat masyarakat hanya mampu mengemban kemauan masyarakat, yang terbaik akan saya laksanakan”, imbuh Yato.

Dia juga berharap suatu saat rumah tersebut menjadi cagar budaya, karena disitulah beberapa orang Kepala Desa yang pernah memimpin Desa Lowayu bertempat tinggal. Agar dikemudian hari generasi penerus Desa Lowayu tidak melupakan sejarah desanya. (Omdik)