Kampoeng Sawoeng Menanam 69 Pohon Langka Surabaya Identik dengan Toponimi

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Komunitas Kampung Sawoeng melakukan gerakan aksi menanam pohon yang melibatkan masyarakat beserta anak-anak sekolah dasar. Yang menarik, aksi tanam pohon ini bukan sembarangan pohon. Pasalnya, pohon yang ditanam merupakan jenis-jenis tanaman sesuai nama-nama jalan di Surabaya. Mereka menyebutnya tanaman toponimi (nama tempat).

Dikenal kota Pahlawan, Surabaya memiliki sejarah panjang terkait toponimi (nama tempat). Seperti nama Jalan Embong Sawo, kenapa dinamai Embong Sawo? Apakah karena jaman dahulu tempat tersebut dipenuhi pepohonan sawo. Ada pula Jalan Embong Gayam (tanaman gayam), Jalan Cempedak (tanaman cempedak atau nangka beruit), Jalan Cendana (tanaman cendana), Jalan Kenongo (tanaman kenanga, Jalan Gadel (tanaman bratawali atau daun gadel), Jalan Juwet (tanaman juwet, jambalang atau jambu keling) dan masih banyak lagi.

Dengan kata lain, nama-nama unsur geografi bukan hanya sekedar nama, tetapi di belakang nama tersebut adalah sejarah yang panjang dari pemukiman manusia.

Anak-anak Surabaya menanam pohon langka.

Dari nama-nama geografik ini dapat dilacak perjalanan panjang bangsa ini. Pasalnya, bila para ahli sepakat menamai suatu jalan atau daerah, maka hal ini tidak sepele, dan terus bergulir terus tiap tahunnya dalam wacana diskusi para ahli geografi dan ilmu-ilmu terkait lainnya.

Untuk mengetahui sejarah toponomi di Surabaya, juga harus mendengarkan pendapat dan paparan ilmiah dari ahli sejarah, ahli bahasa, ahli sosiologi, dan bila dibutuhkan, para sesepuh daerah.

Nah, dengan menggelar aksi tanam pohon sekolah berdasarkan toponimi ini, Komunitas Kampoeng Sawoeng ingin mengenalkan aktivitas menanam, sekaligus memberi edukasi kesejarahan pada anak-anak dan masyarakat.

Penyerahan secara simbolis pohon toponimi bernama ‘nyamplungan’.

“Banyak dari kita tidak paham dan baru ngeh, nama-nama jalan di Surabaya sebetulnya dibuat berdasarkan nama tanaman. Tanaman ini memiliki kesejarahan nama-nama, yang selanjutnya kami sebut sebagai Pohon Surabaya,” kata Syahrul Munir, Ketua Komunitas Kampung Sawoeng di sela-sela acara Anak Sekolah Tanam Pohonnya di UPTD Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran Lama, Minggu (17/12/2017).

Sejauh ini Kampoeng Sawoeng sudah mengidentifikasi kurang lebih 69 pohon Surabaya yang merupakan tanaman identik dari nama suatu daerah atau jalan di Surabaya.

Yang menjadi keprihatinan Kampoeng Sawoeng, tanaman toponimi Surabaya ini semakin berkurang jumlahnya, bahkan bisa jadi sudah tidak ada lagi di daerah tersebut.

“Karena itu kita perlu mengadakan upaya-upaya pelestarian agar pohon toponimi Surabaya ini tetap ada. Kampoeng Sawong percaya bahwa setiap pohon Surabaya mempunyai cerita sendiri terhadap penamaan-penamaan dari suatu daerah ataupun jalan di Surabaya. Ada sejarahnya yang bisa diceritakan ke generasi masa depan,” terang Syahrul.

Dikatakan Syahrul, Kampung Sawoeng berharap ada support dari pemerintah kota (Pemkot) untuk melestarikan pohon-pohon langka yang hampir punah tersebut. “Kami berharap peran pemerintah agar bisa dibuat lembaga konservasi pelestarian tanaman langka di Surabaya. Selain memberi pengetahuan dan ketrampilan tentang tanaman, tentu harus ada upaya pelestarian pohon Surabaya,” terangnya.

Ketua Komunitas Kampung Sawoeng, Syahrul Munir.

Dalam menginisiasi program tersebut, Komunitas Kampung Sawoeng menggandeng PT Intiland Surabaya yang peduli dengan lingkungan hidup. Tidak hanya itu, komunitas ini juga melibatkan pemerintah kota (Pemkot) Surabaya dalam menyukseskan kegiatan menanam pohon. Dan yang terpenting adalah melibatkan anak-anak SD.

“Selama ini kami sudah menggelar kegiatan workshop secara berkala di dua tempat, yakni SDN Wiyung I dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) H Nyai Asyafiah. Kegiatan ‘Anak Surabaya Menanam Pohonnya’ ini diikuti anak kelas 4 dan 5 SD selepas sekolah. Pada kegiatan ini anak dikenalkan dengan aktivitas menanam. Tentang apa yang ditanam, bagaimana menanam dan bagaimana merawatnya. Selain mengenalkan tanaman toponimi, kami juga mengenalkan berbagai jenis tanaman toga. Kami juga mengajarkan mereka cara membatik menggunakan tanaman toga. Selain itu, kami beri pelatihan dan ketrampilan bagaimana memanfaatkan limbah menjadi pot bunga, seperti botol plastik dan bambu,” urai Syahrul.

Senada mentor Kampoeng Sawoeng, Candra Triwahyudi mengatakan, program ‘Anak Surabaya Menanam Pohonnya’ ini mengajak anak-anak untuk mengenal Surabaya lewat pohon. Harapannya, anak-anak dapat meningkatkan rasa kebanggaan sebagai anak Surabaya.

“Banyak dari anak Surabaya tidak mengenal pohonnya. Padahal pohon itu ada di sekeliling mereka. Belum lagi pohon toponimi yang kini semakin langka. Karena itu kami ingin anak-anak Surabaya turut berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungannya,” tutur Candra.

Dalam kegiatan sekolah, terang Candra, dibagi menjadi dua aktivitas utama, antara lain workshop yang dimulai pada 21 Oktober hingga 25 November 2017 dan publicity stunt (aksi tanam dan ajang kreatifitas anak) pada 17 Desember 2017.

Sampai dengan saat ini aktivitas yang sudah dilakukan antara lain, Kampoeng Sawoeng sudah mengajarkan anak-anak diajarkan mengenal macam-macam media tanam dan jenis sayuran. Serta praktek menanam sayuran dengan menggunakan tanah sebagai media tanamnya.

“Dalam workshop anak-anak diajak mengenal jenis tanaman dengan menggunakan media air terbuat dari bambu air. Bambu air tidak hanya sekedar ditanam namun juga dirangkai sehingga menghasilkan karya yang artistik. Demikian pula anak-anak diajari cara melukis di pot bekas limbah, mengenal media tanam dari batu dan pasir (terarium). Batu dan pasirnya pun dicari yang berwarna warni untuk tetap bisa memberikan sentuhan artistik. Di sini, kami menggandeng teman-teman mahasiswa dari Universitas Surabaya (Unesa) jurusan seni dan Wijaya Kusuma (WK) jurusan botani,” imbuh Candra.

Menurut Anita Dwi Kurnia, Direktur Human Capital PT Intiland Development Tbk, aksi tanam pohon Surabaya secara serentak merupakan bagian dari program menghijaukan Surabaya. Saat ini di kota-kota besar nyaris tidak ada ruang untuk penghijauan. Nah, dengan adanya program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Intiland ini, harapannya Surabaya bisa dihijaukan. Intinya, program CSR PT Intiland peduli pada pelestarian lingkungan di sekitarnya.

“Saat ini pihak kami telah menanam hampir 700 jenis tanaman di seluruh Surabaya dan sekitarnya. Bahkan ke depan kami siap menanam 1.000 pohon. Untuk jenis-jenis tanaman langka, kami telah mengoleksi hampir 400 jenis. Dari mulai pembibitan hingga menjadi pohon,” terang Anita.

Direktur Human Capital PT Intiland Development Tbk, Anita Dwi Kurnia, menjelaskan pada awak media pentingnya Surabaya menanam pohon.

Dalam publicity stunt tersebut, sebanyak 100an anak menanam pohon secara bersama-sama. Ada sekitar 50 pohon yang ditanam. “Ada 50 pohon yang ditanam. Sedang 23 jenis pohon di antaranya termasuk langka,” sebut Anita.

Adapun ke-23 jenis tanaman langka berdasar toponimi di antaranya, bungur, cempedak, cendana, gayam, tanjung, trengguli, ketupa, johat, rukem, cempaka, mojo, mundu, nyamplung, pulosari, putat, kesambi, sonokeling, wuni, klampis, rampelas, konco, kenangan dan kantil.

Sebelumnya dalam workshop, Kampung Sawoeng bersama masyarakat dan anak-anak dari SDN Wiyung I dan MI H Nyai Asyafiah telah menanam sebanyak 150 jenis tanaman. Sebagian dari jenis tanaman itu ada yang langka.

“Ini bentuk komitmen kami yang peduli dengan pelestarian lingkungan. Kami juga ingin mengedukasi masyarakat dengan menggalakkan tanam pohon di kampung-kampung dan sekolah-sekolah. Harapan kami ke depan, kegiatan yang diinisiasi Kampoeng Sawoeng lebih digiatkan lagi. Sehingga banyak masyarakat (khususnya Surabaya) paham dengan jenis-jenis tanamannya yang berasal dari nama-nama jalan di Surabaya. Kami sangat support dan apresiatif pada teman-teman dari komunitas Kampoeng Sawoeng,” pungkasnya.tji