Nur Aisyah Maullidah Duta Perdamaian Lamongan Berprestasi Dalam Dunia Debat

Nur Aisyah Maullidah atau yang biasa dipanggil Ais yang menjadi Duta Perdamaian Lamongan. Foto: dok/Om_kanalisndonesia.com
Nur Aisyah Maullidah atau yang biasa dipanggil Ais yang menjadi Duta Perdamaian Lamongan. Foto: dok/Om_kanalisndonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Menyadari kemampuan yang ada dalam diri sendiri adalah bagian dari proses bertumbuh. Banyak yang dilalui dalam proses pendewasaan untuk menjadi individu yang benar-benar menemukan jati diri. Dia suka sekali ngomong, ada yang mengatakan dia cerewet dan bawel dan juga tidak bisa diam. Orang-orang di sekitarnya sering menganggap dia berisik. Bagaimanapun itu, inilah Nur Aisyah Maullidah atau biasa disapa Ais ini adalah gadis asal Desa Jagran Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan dengan segudang prestasi.

Sejak kecil dia sudah aktif di dunia kompetisi debat, dari berbagai kompetisi debat tersebut dia mendapatkan banyak kesuksesan, tapi juga tak jarang mengalami kegagalan. Namun dari berbagai kegagalan tersebut selalu ada saja alasan untuk kembali lagi berlaga ketika ada kompetisi debat lagi digelar.

Entah mengapa, setiap ada kompetisi debat seakan menjadi panggilan baginya untuk terus ikut bersaing. Menjadi pembicara dalam kompetisi debat sering mendapat cibiran, “minim aksi”. Hal itu tidak bisa disimpulkan begitu saja, karena pada dasarnya pembicara adalah work by talk merupakan cara kerja dalam kompetisi itu sendiri dengan bicara untuk menyampaikan, kampanye, promosi dll.

Dalam berbagai kompetisi tersebut rata-rata merupakan jenis kompetisi public speaking entah itu LKTI, Debat, telling story, bercerita maupun menjadi salah satu duta perdamaian Lamongan (Lamongan Girls Ambassador for peace) pernah diikutinya. Gadis kelahiran 8 Juli 2000 ini prestasinya sudah terlihat sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Dia jago dalam berbagai lomba khususnya tentang kemampuan intelektualnya dengan dimulai dengan menjuarai olimpiade mata pelajaran.

Kemampuannya semakin terlihat dua tahun terakhir ini sejak dia menuntut ilmu di MA. Matholi’ul Anwar Simo Sungelebak. Banyak lomba yang memberikan kesempatan padanya untuk menunjukkan kemampuannya, sehingga banyak prestasi yang didapat diantaranya Juara 3 Nasional LKTI JANGKAR UNAIR 2015, Juara 1 PROVINSI YOUTH DEBATE COMPETITION UNESA 2016, BEST SPEAKER YOUTH DEBATE COMPETITION UNESA 2016, JUARA 1 PROVINSI TELLING STORY LPP STKIP PGRI JOMBANG 2016, JUARA 1 TELLING STORY KARISIDENAN 1 DASAWARSA AL ISHLA 2016, JUARA 1 PROVINSI YOUTH DEBATE COMPETITION UNESA 2017, JUARA 1 PROVINSI DEBAT MENEJEMEN UNISLA 2017, JUARA 1 PROVINSI DEBAT KEPEMUDAAN UNISDA 2017, BEST ESSAI NASIONAL LOMBA DEBAT SATMENWA UGM 2017, JUARA HARAPAN 1 PROVINSI DEBAT PANCASILA UNTAG 2017.

Anak semata wayang dari pasangan Pramugayanto dan Siti Fatimah ini memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik sehingga dia sangat berharap bisa kuliah di luar negeri kelak.

“Saya terserah pada anaknya saja, kami selaku orang tua menginginkan yang terbaik bagi dia” kata Siti Fatimah ketika dihubungi via ponselnya.

Pramugayanto dan Siti Fatimah salah satu warga Lamongan yang sukses memilik rumah makan di Kota Manado Sulawei Utara dan kehidupan mereka sering tinggal disana, sedangkan Nur Aisyah Maullidah tinggal di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo. Walapun jauh namun bukan berarti mereka mengurangi perhatian pada anaknya, tetapi malah meningkatkan perhatian dengan sering berkomunikasi setiap saat. (Omdik)