Puluhan Hektar Sawah di Lamongan Tergenang Karena Curah Hujan Tinggi

Tanaman padi di wilayah Desa Sonoadi Kecamatan Karanggeneng yang berumur 15-21 hari tenggelam akibat curah hujan tinggi yang turun beberap hari terakhir. Foto: Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Dari hasil pemantauan di lapangan ratusan hektar lahan pertanian di Wilayah Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan masih berpotensi tenggelam, terutama di wilayah yang letak geografisnya rendah. Di samping itu ini juga disebabkan karena curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari kemarin sehingga dimungkinkan saluran air di lahan pertanian tidak cukup membuang luapan air.

Kepala UPT Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kecamatan Karanggeneng Buwono, SP.MMA menjelaskan, memang tidak dipungkiri hujan deras yang mengguyur beberapa hari ini bisa membuat sejumlah lahan pertanian dibeberapa wilayah Kecamatan Karanggeneng yang tenggelam.

“Kami imbau agar petani bisa mengatur jadwal kegiatan tanamnya, serta mengatur strategi agar jangan sampai gagal tanam yang mengakibatkan kerugian besar,” katanya.

Buwono menambahkan, beberapa minggu terakhir cuaca tidak menentu. Kadang beberapa hari hujan terus menerus kemudian cerah dan terasa panas. Memang kebutuhan air di saat musim tanam pertama (MT I) pada saat ini cukup besar akan tetapi jika terlalu berlebihan juga tidak baik.

“Beberapa hari terakhir hujan cukup deras, limpahan air pun tidak bisa dipungkiri akan menggenang dibebarap lahan pertanian yang sudah ditanami sehingga gagal tanam akan dialami oleh beberapa wilayah, diantaranya Desa Kawistolegi dan Desa Sonoadi ,” tuturnya.

Mengenai jumlah lahan pertanian yang terendam banjir, pihaknya menyebukan sekitar kurang lebih 100 hektare, dari total lahan pertanian di Wilayah Desa Kawistolegi dan Sonoadi. Dengan rincian lahan yang terendam ringan, sedang dan berat. Rata-rata umur tanaman padi yang tenggelam dari 15 – 21 hari.

Tindakan sudah dilakukan oleh beberapa kelompok tani di dua desa tersebut dengan mengadakan pompanisasi mengurangi genangan yang ada. Kendala yang terberat adalah saluran pembuangan yang kurang memadai sehingga perlu diadakan pengerukan kali yang mampu memperlancar pengairan di lahan-lahan pertanian tersebut.

“Kebutuhan pengerukan Kali patih terlihat sangat mendesak, sehingga tidak bisa ditunda-tunda lagi agar kejadian seperti ini untuk tahun depan tidak terulang lagi”, pungkasnya. (Omdik)