Petani Prijekngablak Lamongan Lawan Tikus dengan Burung Hantu

Petani Desa Prijekngablak Kecamatan Karanggeneng Lamongan, mempersiapkan pagupon untuk tempat burung hantu yang akan dipasang diareal persawahan untuk mengurangi hama tikus. Foto: Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Desa Prijekngablak Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo, dianugerahi tanah yang subur dan air yang melimpah. Tak heran, banyak warganya yang menjadi petani. Mereka mengandalkan kebaikan alam untuk menghidupi keluarganya. Berbagai jenis tanaman seperti padi, tomat dan cabai menghiasi kawasan itu.

Akan tetapi, para petani di Desa Prijekngablak mengeluhkan hama tikus yang menyerang tanaman mereka terutama padi. Sudah sejak satu tahun terakhir ini puluhan hektar lahan pertanian rusak akibat hewan tersebut. Sehingga mereka bersama-sama membuat dan mendirikan pagupon untuk tempat dan sarang burung hantu, seperti yang dilakukan pada hari Kamis (28/12/2017).

Menurut Karum (55) salah satu ketua kelompok tani yang berhasil ditemui kanalindonesia.com mengatakan Pagupon itu sebagai tempat burung berteduh. Namun, bukan burung merpati yang tinggal di rumah kecil tersebut. “Sangkar yang berdiri setinggi empat meter itu di tengah areal sawah tersebut, khusus di sediakan untuk burung hantu”, imbuhnya

Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya masyarakat Desa Prijekngablak mengembangkan penangkaran burung nocturnal (beraktivitas di malam hari) tersebut. Burung yang aktif melakukan perburuan pada malam hari itu kini menjadi sahabat petani setempat. Sekadar diketahui, burung dengan nama latin Tyto alba tersebut berada pada posisi puncak dalam rantai makanan. Makanan utamanya adalah musuh utama petani, yakni tikus.

Hama tikus merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) padi yang sangat meresahkan petani, terlebih pada saaat padi di persemaian dan pada fase bunting. Ada berbagai macam cara pengendalian hama tikus yang biasa diterapkan oleh petani, antara lain: pengumpanan, gropyokan dengan menggunakan anjing, pengendalian menggunakan tiran dan emposan dengan menggunakan belerang, serta menggunakan burung hantu/burung pemangsa tikus (Tito alba).

Kelompok Tani Rame Gawe yang terletak di Desa Prijekngablak Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan melakukan pengendalian hama tikus menggunakan Burung Hantu (Tito alba). Poktan Rame Gawe memiliki 6 pagupon burung hantu yang diupayakan secara swadaya oleh anggota kelompok.

Masing – masing pagupon telah dihuni lebih dari 2 pasang burung hantu. Hingga saat ini manfaatnya sangat dirasakan oleh anggota kelompok yaitu mengurangi biaya pengendalian hama tikus hingga 70%. Dengan demikian pengendalian hama tikus dengan menggunakan burung hantu (burung pemangsa tikus) dapat di terus dilestarikan dengan harapan dapat menekan biaya pengendalian tikus dan mengamankan tanaman padi di lahan sehingga mendapatkan hasil panen yang optimal.

Kepala UPT Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kecamatan Karanggeneng Buwono, SP.MMA menjelaskan bahwa Pengunaan rodentisida yang kurang baik dan bijaksana pada awalnya dapat menurunkan populasi tetapi dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak negatif seperti meningkatnya populasi tikus, adanya residu pestisida di lingkungan yang dapat menimbulkan biomagnifikasi residu yaitu akumulasi residu pada rantai makanan di alam. Oleh karena itu perlu adanya solusi teknik pengendalian yang ramah lingkungan yaitu pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami tikus.

Populasi tikus di Kabupaten Lamongan khususnya di Kecamatan Karanggeneng yang terus meningkat, kemungkinan disebabkan karena populasi musuh alami seperti kucing, ular di sawah dan burung hantu di alam jumlahnya semakin sedikit. Menurunnya populasi musuh alami tikus ini karena perilaku manusia yang banyak memburu ular dan burung hantu untuk keperluan ekonomi. Hal ini yang memicu tikus dapat berkembang secara optimal tanpa ada yang memakan.

Sementara itu Kepala Desa Prijekngablak Ali Ajib Anamsari mengatakan Desa Prijekngablak memiliki tiga dusun, yaitu Prijek, Klagen dan Ngablak. Di desa tersebut memiliki 6 kelompok tani yang masing-masing memiliki 1 pagupon jadi di Desa Prijekngablak memiliki 6 pagupondan dan bisa bertambah jumlahnya untuk mengawasi 180 ha lahan pertanian (sawah) yang dimiliki Desa Prijekngablak.

“Saya berharap dengan adanya program paguponisasi ini bisa mengurangi hama tikus dan tanpa mengganggu ekosistem serta yang terpenting petani Desa Prijekngablak semakin makmur karena masyarakat disini mayoritas petani. Selain itu semoga sistem paguponisasi ini bisa digalakkan di wilayah Kecamatan Karanggeneng khususnya dan Kabupaten Lamongan pada umumnya”, pungkasnya. (Omdik)