Kasatreskrim Polwan Ini Berhasil Ungkap Kasus Pemcabulan

KANALINDONESIA.COM, PASURUAN: Dari hasil analisa dan evaluasi di penghujung tahun 2017, diketahui bahwa jumlah data gangguan Kamtibmas selama tahun 2017 di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota (wilkum Restapas) mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yakni sebanyak 515 kasus.

Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Arumsari Puspita Dewi menjelaskan bahwa, selama tahun 2017 terdapat 10 crime index (indeks kejahatan) teratas di wilkum Restapas adalah sebagai berikut: penipuan sebanyak 75 kasus pencurian dengan pemberatan (curat) sebanyak 51 kasus penggelapan sebanyak 48 kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sebanyak 44 kasus, perjudian sebanyak 36 kasus, perlindungan anak sebanyak 36 kasus penganiayaan sebanyak 29 kasus KDRT sebanyak 26 kasus pencurian sebanyak 25 kasus curas sebanyak 18 kasus.

“Dari total 515 kasus kejahatan konvensional yang kami tangani, sebanyak 366 kasus atau sekitar 71,06% berhasil kami ungkap. Biasanya setiap tahun pasti naik, tapi Alhamdulillah kita bisa menekan angka kriminalitas,” ujar AKP Arumsari.

Keberhasilan menekan angka kriminalitas itu, menurutnya berkat kerja keras dari anggota dilapangan, baik giat kepolisian preemtive, pembinaan masyarakat oleh Bhabinkamtibmas, maupun deteksi dini dan juga dukungan penggalangan informasi yang diemban oleh fungsi intelkam, dan giat kepolisian preventive yang diemban oleh fungsi sabhara dan lalu lintas berupa patroli dan kegiatan razia maupun operasi kepolisian serta giat kepolisian represif yang diemban oleh fungsi satreskrim berupa penegakan hukum.

Disamping itu tentu saja juga atas dukungan dan kerjasama seluruh komponen masyarakat serta efektifnya sinergi tiga pilar kamtibmas plus baik TNI, Polri, Pemda serta toga, tomas maupun toda.

Dari beberapa kasus yang ditangani oleh alumnus Akpol 2006 tersebut, ada sejumlah kasus asusila yang berhasil diungkap dan cukup menonjol. Salah satunya adalah kasus pencabulan sesama jenis yang terjadi pada medio Bulan Oktober lalu.

Diceritakan secara singkat oleh Kasatreskrim, pencabulan yang dilakukan oleh tersangka MST (45) warga Kecamatan Grati itu berkedok sebagai dukun yang bisa membantu korbannya, sebut saja FA (18) untuk bisa lulus tes kesehatan menjadi tentara.

“Dalam salah satu ritualnya, tsk ini menyuruh korbannya untuk melepaskan seluruh pakaiannya, dan beralasan untuk menyucikan diri, namun kemudian ternyata dicabuli. Atas dasar laporan korban, tsk kemudian berhasil kami amankan dan mengakui perbuatannya. Selanjutnya kita jerat dengan Pasal 292 KUHP,” terang Polwan berhijab tersebut.

Kemudian ada juga kasus kekerasan terhadap anak, yaitu kasus bocah berumur 7 tahun di wilayah Kecamatan Gondangwetan, yang dianiaya oleh kakeknya dengan cara didekatkan kepada monyet peliharaannya. Karena sang bocah diduga mengambil uang kakeknya. Akibat kejadian itu, si bocah yang hidup bersama kakeknya, karena kedua orangtua nya berpisah itu, mengalami luka cakaran dan gigitan dari sang monyet peliharaan kakeknya tersebut.

Saat kejadian “penyiksaan” tersebut, ada seorang tetangganya yang merekam secara diam-diam dari kejauhan dan mempostingnya di medsos hingga rekaman video bocah disiksa monyet itu menjadi viral.

“Kasus itu sudah masuk tahapan 1. Untuk korban sudah mendapatkan pendampingan dan sudah ikut kembali bersama ibu nya yang bekerja di luar kota. Itu Bu Kapolri meng-atensi langsung,” pungkas AKP Arumsari Puspita Dewi. (rbt)