Meski Hasil Labkesda Provinsi Jatim Belum Keluar, Pasien Diduga Difteri Kondisinya Membaik

Dr Pudji Umbaran selaku Direktur RSUD Jombang

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Diberitakan sebelumnya AA (3) seorang bocah yang diduga terkena Difteri, yang menjalani perawatan di RSUD Jombang, Jawa Timur, kondisinya sudah membaik. Meski hasil Labkesda Provinsi Jawa Timur, belum keluar terkait kepastian apakah AA positif Difteri (red : Konfirm), atau bukan Difteri (red : suspect), AA bisa dipastikan pulang.

“ Alhamdulillah pasien Difteri yang kita rawat anak A usia 3 tahun, yang datang memang dengan Suspect Difteri, kondisinya sudah membaik,” kata Dr Pudji Umbaran selaku Direktur RSUD Jombang saat ditemui sejumlah wartawan, 29 Desember 2017.

Masih menurut Pudji, membaiknya kondisi pasien tersebut, diketahui dari hasil pemeriksaan oleh dokter, dimana pihak dokter mengetahui bahwa ada kuman di dalam hasil swab tenggorokan pasien tersebut, melalui penanganan sesuai dengan tatalaksana sesuai prosedur penanganan Difteri, kondisi pasien kini membaik.

”tatalaksana penanganan Difeteri yang sudah kita lakukan yakni, dengan memberikan ADS, pengobatan PPC, pengobatan eritrolicin dan lain sebagainya sudah kita lakukan, dan alhamdulilah perkembangannya pasien membaik,” ujarnya.

Lanjut Pudji, hari ini pihaknya mengkonfirm ke Spesialis Anak (SpA), dinyatakan bahwa untuk pengobatan PPC terkahir untuk pasien AA.” Hari ini insyallah swab terkahir untuk konfirmasi hasil bisa kita dapatkan hasil yang memuaskan dan pasien hari ini bisa kita pulangkan,” ungkap Pudji.

Saat disinggung apakah ada history pada pasien AA, tidak diberikan vaksin Difteri saat balita, Pudji menjelaskan bahwa memang untuk mencegah Difteri ini salah satunya yakni dengan diberikan vaksinasi saat balita.” Itulah kenapa pemerintah membuat program vaksinasi DPT pada bayi, dan itu wajib hukumnya, harapannya agar terbentuknya kekebalan bayi terhadap Difteri,” jelasnya.

Imbuh Pudji, dan untuk pasien ini pihaknya memang tidak menelusuri riwayat imunisasinya lengkap atau tidak.” Kami memang tidak mengevaluasi riwayat pasien itu secara detail, namun bisa jadi pasien ini sudah diimunisasi namun kekebalannya sudah habis, juga bisa,” tegasnya.

Ketika ditanya apa harapannya pada masyarakat agar bisa terhindar dari Difteri, mengingat jika satu balita atau orang dewasa yang terkena Difteri dan hasilnya adalah confirm, maka akan ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB), karena kasus Difteri ini resikonya sangat tinggi.

“kepada masyarakat luas kita berharap bahwa pemerintah sudah menetapkan ada program imunisasi Difteri melalui program wajib pada balita, wajib diikuti, karena itu ada maksutnya yakni untuk mencegah kejadian penyakit-penyakit yang seharusnya tidak terjadi di Negeri ini, karena satu saja confirm Difteri makan akan ada KLB, dan harus kita sikapi secara bersama,” tukasnya.(elo)