Musim Penghujan Permintaan Gerabah di Lamongan Meningkat, Tetapi Produksi Tersendat

Proses pembakaran di salah tempat pebuatan gerabah di Desa Gampangsejati Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan. Foto:Omdik_kanalindonesia.com

KANALINDONESIA.COM. LAMONGAN; Musim hujan tidak hanya berdampak bagi para petani saja, tetapi juga membawa dampak pada perajin gerabah di Desa Gampangsejati Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sejak memasuki musim penghujan, para perajin berbahan tanah liat ini kesulitan dalam proses pengeringan kerajinannya yang sangat tergantung pada sinar matahari tersebut.

Menurut Sidik (46), salah satu perajin gerabah mengaku, cuaca mendung yang seringkali diiringi dengan turunnya hujan pada musim penghujan, membuat para perajin gerabah di desanya, termasuk dirinya, mengalami kesulitan ketika harus mengeringkan. Karena tidak mendapatkan cahaya sinar matahari yang cukup, seperti pada musim kemarau. Tidak adanya sinar matahari yang mencukupi membuat proses pengeringan menjadi lebih lama daripada biasanya.

“Jika biasanya proses pengeringan hanya membutuhkan waktu 1-2 hari, pada musim penghujan proses pengeringannya bisa lebih lama yakni 3-5 hari,” jelasnya kepada kanalindonesia.com.

Masih kata Sidik, terhambatnya proses pengeringan tersebut juga otomatis mempengaruhi produksi gerabah setiap harinya. Disebutkan, pada musim kemarau, Sidik dapat memproduksi gerabah sebanyak 100 setiap harinya. Tetapi pada musim penghujan, ia hanya bisa membuat kerajinan gerabah 50-75 per harinya.

“Kalau musim hujan seperti sekarang ini, para perajin harus ekstra waspada ketika menjemur gerabah. Karena bisa saja tiba-tiba hujan turun sehingga gerabah harus segera dimasukkan agar tidak terkena air hujan,” ucapnya. Gerabah yang masih setengah jadi dan belum dibakar, lanjutnya, akan mudah rusak jika terkena air hujan.

Lebih lanjut sidik mengatakan, sebetulnya permintaan pada musim penghujan ini sangat meningkat akan tetapi produksi gerabah tersendat karena dipengaruhi faktor cuaca yang tidak bisa dipastikan sehingga para pengrajin pun harus berkejaran dengan waktu serta permintaan. Pada musim kemarau pengiriman gerabah mencapai 3000 buah sementara pada musim penghujan seperti ini hanyak mampu menghasilkan 2.500 buah.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Gampangsejati Ali Khamdi, perajin gerabah yang lainnya juga mengaku kesulitan memproduksi gerabah pada musim penghujan seperti ini. Menurutnya, mulai dari awal pembuatan kerajinan gerabah sangat membutuhkan panas dari sinar matahari sehingga jika panas tersebut tidak terpenuhi, maka akan berdampak pada kualitas dan kuantitas gerabah.

“Sebelum dibentuk dan dibakar, tanah liat yang digunakan untuk membuat gerabah terlebih dulu harus dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah itu, baru dimasukkan ke dalam bak untuk dicampur dengan pasir dan air. Selanjutnya, tanah liat dikeluarkan kembali untuk diinjak-injak dan dibentuk. Selesai dibentuk, gerabah kemudian dijemur lagi di bawah sinar matahari selama tiga hari baru kemudian dibakar,” jelas Ali Khamdi.
Dari beberapa proses tersebut, ada beberapa tahapan yang sangat bergantung pada sinar matahari.

Desa Gampangsejati Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan merupakan salah satu desa yang menjadi sentra penghasil gerabah di Kabupaten Lamongan. Gerabah hasil pengrajin desa tersebut dipasarkan sampai kebeberapa kota di Jawa Timur, Surabaya, Malang, dan Tulungagung bahkan sampai ke luar pulau yakni Samarinda dan Palu.(Omdik)
[31/12 19.29] Ferry Lamongan: Caption:

Proses pembakaran di salah tempat pebuatan gerabah di Desa Gampangsejati Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan. Foto:Omdik_kanalindonesia.com