ILUNI UI Adakan Fokus Group Diskusi ( FGD ) Indonesia Bebas dari Difteri

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA :Penyakit difteri seharusnya sudah tidak ada lagi di Indonesia. Sebab sejak tahun 1976 Pemerintah Indonesia sudah melakukan imunisasi dipteri kepada anak-anak usia Balita (bawah lima tahun). Namun, tahun 2017 muncul kembali bahkan menjadi wabah. Hal tersebut disebabkan karena masih adanya orangtua yang belum mau mengimunisasi anak-anak usia balita meskipun diberikan secara gratis oleh pemerintah. Selain itu, masih banyaknya anak-anak Indonesia yang meski sudah melakukan imunisasi namun imunisasinya belum lengkap, dan adanya anggota masyarakat yang berusia di atas usia 40 tahun yang belum melakukan imuniasasi. Serta kurangnya informasi mengenai manfaat dari imunisasi serta tata cara pelaksanaan imunisasi dan apa manfaat dari imunisasi itu sendiri.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Fokus Group Diskusi (FGD) “Indonesia Bebas Difteri” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) pada, Minggu (7/1) di Ruang Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kampus Salemba Jakarta.

Acara yang dibuka Direktur Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Universitas Indonesia Erwin Nurdin disaksikan Ketua Umum ILUNI UI Arief Budhy Hardono ini, menghadirkan keynote speaker Dekan FKUI Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dengan moderator ketua ILUNI UI Dr dr Taufik Jamaan SpOG. Narasumber lainnya yang hadir antara lain Direktur Surveilance Kementrian Kesehatan Dr Jane Supardi, anggota Satgas Imunisasi IDAI Dr dr Soejatmiko, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat yang juga Ketua ILUNI UI Dr Wahyu Sulistiadi, wakil dari divisi Infeksi dan Pediatri FKUI-RSCM dr Nina Dwi Putri SpA(K) dan kepala bagian mutu uji klinik imunisasi PT Bio Farma (Persero) dr Mahsum Muhaammadi.

“Penyakit difteri itu adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae yang menyerang tenggorokan ,hidung dan kulit. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi dan berakhir kepada kematian karena dapat menyerang saluran napas atas yang menyebabkan orang susah bernapas, merusak jantung, ginjal dan syaraf. Selain itu dapat menular,” ujar Dr dr Sujatmiko dari Satgas imunisasi IDAI.

Agar tahun 2018 Indonesia terbebas dari wabah penyakit difteri, Dosen FKM UI yang juga Ketua ILUNI UI Dr drg Wahyu Sulistiadi menyampaikan, agar, pemerintah dan masyarakat bersama-sama menggalakan imunisasi dipteri. Selain itu, melakukan penguatan sistem informasi kesehatan, melakukan majamen crisis solution serta memproduksi serum dan vaksin yang berkualitas. Yang tidak kalah pentingnya adalah, keterpaduan antara pemerintah dan masyarakat, apapun latar belakang politik dan agamanya, semuanya harus punya satu tujuan. Hilangkan penyakit difteri.

“Pemerintah harus melakukan penguatan sistem informasi. Harus selalu mensosialisasikan apa tu penyakit difteri, akibatnya apa, bagaimana cara mengatasinya dan bagaimana mendapatkan imunisasinya. Serta dampak yang akan ditimbulkan jika diimunisasi dan jika tidak diimunisasi. Selama ini, masyarakaat masih bingung bila ada pertanyaan atau penyakit tentang difteri. Dan yang tidak kalah pentingnya, pemerintah jangan panik bila terjadi wabah. Jika pemerintah panik, masyarakat akan tambah panik,” ujar Wahyu Sulistiadi.

Senada dengan Wahyu Sulistiadi, Dekan FKUI Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH menyampaikan, agar masyarakat tidak termakan informasi hoaks atau informasi bohong yang saat ini bersebaran di media sosial, termasuk soal difteri dan imunisasi yang berakibat banyaknya anggota masyarakat yang enggan mengimunisasikan anak-anaknya, pihaknya memerintahkan seluruh anggota civitas akademika FKUI termasuk mahasiswa kedokterannya, untuk aktif dan mempunyai berbagai akun di media sosial. Akun-akun media sosial tersebut harus digunakan dan dimanfaatkan melakukan sosialisasi informasi kesehatan yang benar termasuk menyampaikan informasi yang benar tentang imunisasi melawan informasi hoax yang bertebaran di media sosial.

“ FKUI sendiri sebagai lembaga pendidikan siap membantu pemerintah untuk mengatasi dan menghentikan penyebaran penyakit difteri. Selain memiliki 3000 dokter dan mahasiswa kedokteran yang siap diterjunkan ke lapangan untuk membantu melakukan sosialisasi yang benar sekaligus juga membantu melakukan pengobatan. FKUI sendiri memiliki banyak tenaga ahli di bidang kesehatan. Semuanya siap membantu pemerintah dan masyarakat untuk menghentikan dan mencegah penyakit difteri di Indonesia,” papar Dr dr Ari Fahrian Syam SpPD.(awi)