Tak Dapat Rekom Pilwali, Sekretaris DPC Demokrat Kota Madiun Mundur

ARMAYA, Sekretaris DPC Partai Demokrat Kota Madiun

KANALINDONESIA.COM, MADIUN: Sekretaris DPC Partai Demokrat Kota Madiun Armaya, yang akrab dipanggil Yayak memilih untuk mengundurkan diri sebagai pengurus dan kader Partai Demokrat.

Demikian disampaikan Armaya yang juga Wakil Walikota Madiun ini, kepada sejumlah wartawan, Kamis (11/01/2917).

Setelah ambil keputusan, ia tetap konsentrasi di pemerintahan hingga berakhir April 2019 mendatang.

“Saya hari ini akan mengundurkan diri sebagai pengurus (sekretaris) DPC Demokrat dan keluar dari anggota Partai Demokrat Kota Madiun. Keputusan pengunduran diri ini didasari beberapa pertimbangan, sehingga harus mengambil keputusan itu,” ujar Armaya.

Pertama, adanya desakan dari ketua ranting, Pimpinan Anak Cabang (PAC), koordinator lapangan dan para pendukungnya. Dukungan terhadap dirinya dari ketua ranting dan ketua PAC sudah disampaikan kepada DPD dan DPP Demokrat, namun tidak ditanggapi.

Menurutnya mereka merasa partai tidak mengapresiasi usulan dari mereka, kepada kadernya untuk diberangkatkan menjadi calon Walikota Madiun. Kedua, ada grand design atau konspirasi tingkat tinggi dan menduga dilakukan tingkat DPD dan DPP, supaya dia tidak bisa berangkat dari Partai Demokrat.

“Saya menduga ada grand design atau konsiprasi politik tingkat tinggi, ada sekenario agar saya tidak bisa berangkat melalui jalur partai politik,” ujarnya serius.

Berikutnya, di keluarga besarnya tidak akan berpolitik lagi. Atas pertimbangan itu, mantap keluar sebagai pengurus dan kader Partai Demokrat.

Ia mengaku jauh-jauh hari sudah mengetahui gejala-gejala seperti itu akan terjadi. Bahkan, sebelum proses pendaftaran bakal calon, sudah diberi saran oleh seseorang, agar mencalonkan diri melalui jalur independen.

“Rekomendasi dari  Partai Demokrat dan keputusan berkoalisi dengan PDIP terlalu dipaksakan,” ujarnya.

Padahal, Partai Demokrat memiliki 7 kursi dan bisa mengusung Paslon sendiri. Atas keputusan DPP Partai Demokrat, ia mengaku sempat merasa kecewa, meski hanya sesaat dan menganggap tidak perlu berlama-lama.

“Saya  juga menganggap terjadi kawin paksa antara merah (PDIP) dan biru (Demokrat). Kawin paksa pasti dampaknya tidak baik. Kita lihat nanti di pesta Pileg 2019 nanti. Jadi korban siapa, menang siapa, mendapatkan keuntungan siapa,” ujarnya.

Ia berpesan kepada para pendukungnya agar tidak golput atau netral pada saat pencoblosan nanti.

“Saya belum tahu. Sampai hari kemarin mereka (korlap, loyalis, ketua ranting, kader) ketemu. Saya belum menentukan sikap, masih menunggu arahan harus kemana suara itu,” ujarnya enggan menyebut arahan dari siapa.

Diketahui, Partai Demokrat akhirnya memberi rekomendasi kepada Maidi sebagai calon Walikota Madiun diusung dalam Pilkada 2018. Padahal, ada 2 kader sendiri mendaftar pada saat pendaftaran bakal calon, yakni Istono (Ketua DPC Demokrat/Ketua DPRD setempat ) dan Armaya.(sam)