Wabub Sumenep Minta Lestarikan Sapi Sonok

KANALINDONESIA.COM, SUMENEP: Sapi sonok merupakan sebuah sapi betina yang diadu kecantikannya dan gemulainya. Sapi sonok ini berbeda dengan kerapan sapi, kalau kerapan sapi merupakan sepasang sapi jantan yang dinilai dari kecepatan lari, sedangkan sapi sonok merupakan sepasang sapi betina yang dihias cantik dan dimanja.

Sapi sonok ini tidak dipacu dan ditunggangi, melainkan diiringi musik dan tari-tarian saronen.

Seperti layaknya model yang hendak melenggang di catwalk, sapi – sapi itu didandani dengan selempang keemasan di leher serta dada. Di leher sapi dipasang pangonong yaitu kayu perangkai sapi yang diukir indah dengan perpaduan warna merah dan kuning emas.

Achmad Fauzi Wakil Bupati (Wabup) Sumenep mengatakan Sapi Sonok santer tersiar ke penjuru dunia, sebab sapi sonok sangat unik dan jarang ditemui, tetapi karena Sapi Sonok adalah jubah identitas masyarakat yang menunjukkan keindahan dan kesantunan dan dirinya mengajak masyarakat untuk melestarikan sapi sonok

“Bagi Saya, Sapi Sonok bukan hanya sapi rias. Musiknya pun bukan sekedar bunyi tanpa arti. Sapi Sonok itu kesenian khas Madura yang bisa mempertemukan beragam agenda. Sambil bersorak melihat keserasian dan tarian sapi sepasang, silaturrahmi juga akan terjalin di lapangan. Ayo bersama menjaga tradisi Sapi Sonok,” tuturnya selasa (23/1/2018)

Sapi Sonok berawal dari dari kebiasaan petani dalam merawat sapi ternak. Setiap sore sapi-sapi betina ini dimandikan setelah itu ditali pada tonggak kayu dan kemudian berjejer rapi. Sebelum bisa tampil di Kontes Sapi Sonok, sapi-sapi dilatih sejak usia 3 tahun dengan perlakuan khusus dan nutrisi makanan terbaik.

Setiap seminggu sekali sapi-sapi betina ini rutin diberi jamu yang telah dicampur dengan sekitar 15 butir telur. Setiap tahun selalu diadakan Kontes Sapi Sonok dengan mendatangkan sapi-sapi terbaik dari seluruh wilayah Pulau Madur

Di ketahui bahwa Sapi Sonok  dalam kontes ini, sapi dilepas hingga menuju garis finish, diiringi berjalan di lintasan dan kemudian harus finish dengan masuk, biasanya orang Madura menyebutnya (Nyono’) di bawah sebuah Gapura.

Disamping keindahan berjalan, juga pakaian yang dikenakan pasangan sapi, juga menentukan keserasian pasangan sapi ketika sampai di garis finish. Kaki depan kedua pasangan Sapi Sonok harus bersamaan naik ke altar yang terbuat dari kayu Setelah mencapai garis finish para pemilik sapi langsung menari dengan para sinden yang menari mendampingi pasangan sapi kebanggaan.(ziad)