Grebeg Selo Bale, Pesta 131 Lodho Ayam di Dusun Winong Sumurup Bendungan

KANALINDONESIA.COM, TRENGGALEK: Tradisi unik digelar masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup Kecamatan Bendungan dengan ditandai suguhan sebanyak 131 ayam lodho komplit kuliner khas Trenggalek Jawa Timur.

Mereka memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan  rasa syukurnya  kepada Sang Pencipta Tuhan YME. Ungkapan rasa syukur tersebut diwujudkan melalui upacara adat desa yang diadakan setiap hari Jum’at Legi ‘Tracapan’ sekali dalam setahun dengan nama acara Grebeg Selo Bale, Jum’at , (26/01/2018) pukul 09.00 WIB.

Kemunculan Grebeg Selo Bale juga diharapkan Pemkab Trenggalek menjadi destinasi wisata yang baru terlahir dari wilayah utara kota penghasil kripik tempe ini.

Kata ‘Trancapan’ bisa diartikan ‘Tracap’(bahasa jawa) atau waktu dimulainya turun hujan yang pertanda musim mulai tanam padi dan tanaman yang lain. Sehingga Grebeg Selo Bale bisa disimpulkan sebagai tradisi masyarakat petani untuk mengungkapkan syukur atas hasil panennya dan musim tanam yang dilakukannya ini dijauhkan dari hama. Bahkan ada juga pelaksanaan pembakaran ogoh-ogoh (replika syetan raksasa-red) yang terbuat dari jerami.

Sedangkan penamaan Grebeg Selo bale , karena  masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup sepakat menggelar upacara adat ini  di kawasan Taman Batu Selo Bale, yang rencananya menjadi destinasi wisata baru, padahal sebelumnya ditempatkan di balai desa setempat.

Menurut penuturan warga, tradisi Grebeg Selo Bale sudah dilakukan turun temurun sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu dengan ditengeri (ditandai-red), selamatan 131 Ayam lodho bersama sesaji yang lain.

Wakil Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin yang hadir dalam upacara adat Grebeg Selo Bale tersebut pertanda bahwa masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup Kecamatan Bendungan memiliki rasa syukur yang besar. Hal tersebut dapat dilihat dari keikhlasan setiap warga untuk menyajikan ayam lodho (makanan khas Trenggalek) dalam upacara adat Grebeg Selo Bale dengan jumlah yang relatif banyak.

“Poin pentingnya adalah masyarakat mempunyai inisiasi untuk bagaimana membuat event di tingkat desanya masing-masing dan ini sebenarnya upacara adat ucap syukur di lokasi yang namanya Selo Bale, dan ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik,” ucapnya.

Dikatakannya , simbol membakar ogoh-ogoh raksasa yang berbahan jerami padi, karena petani ini ingin semua roh jahat dalam bentuk hama padi dan tanaman lainnya termasuk jagung dan cengkeh sedapatnya hilang dari tempat ini bagi kelangsungan hidup tanaman dengan mampu membawa panen yang melimpah.

“Apalagi yang saya tunggu sebenarnya ini nanti ada simbolisasi membakar ini (ogoh-ogoh), sebagai bentuk bahwa agar  sawah-sawah di sini tidak ada hama, biar dijauhkan dari musibah,” terangnya.

Suguhan budaya itu , masih kata Wabup Moch Nur Arifin, akan menarik wisatawan yang disuguhi adat budaya beserta kesenian khasnya.

“Ketertarikan akan budaya lokal seperti ini akan menarik minat wisatawan dan kegiatan ini harus kita lestarikan,” imbuhnya.

Wabup Moch Nur Arifin juga mengharapkan agar potensi yang dimiliki Dusun Winong yang juga sentra budidaya sekaligus pengembangan sektor perikanan air tawar berupa ikan lele untuk terus dikembangkan dan harus diiringi inovasi melalui wisata kulinernya.

“Jika memang sudah banyak wisatawan yang datang maka juga perlu adanya wisata kuliner berbasis olahan ikan lele,” pungkasnya.(hamzah)