SDN Sugihwaras Lamongan Bangun Karakter Siswa Lewat Salaman Pagi

KANALINDONESIA.COM, LAMONGAN; Tradisi Salaman Pagi di SD Negeri Sugihwaras Kalitengah Lamongan sudah menjadi budaya dilakukan setiap hari. Setiap pagi para guru yang Kepala Sekolah menyambut kedatangan para siswa di pintu masuk sekolah. Tradisi ini dilakukan setiap hari, dan membuat para peserta didik merasa diperhatikan dengan baik.

Para guru yang bertugas dan kepala sekolah selalu hadir tepat waktu menunggu anak-anak datang ke sekolah. Mereka biasanya datang lebih pagi dari kedatangan peserta didik. Rata-rata pukul 06.30 pagi, para guru yang bertugas sudah siap berdiri di pintu masuk sekolah untuk menyambut kedatangan siswa.

Tradisi salaman pagi adalah salah satu bentuk dari pendidikan karakter yang kini tengah didengung-dengungkan oleh pemerintah. Sebelum pemerintah mencanangkan konsep pendidikan berkarakter, SDN Sugihwaras sudah melaksanakan kegiatan seperti ini sudah lama. Tradisi salaman pagi adalah pencerminan dari penghormatan antara yang muda dan tua dengan cara mencium tangan. Di sanalah terjadi penghormatan seorang pendidik kepada para peserta didiknya. Penghormatan anak kepada orang tuanya.

“Bila tradisi bersalam-salaman terus dilestarikan di bumi Indonesia, maka tak ada orang muda yang tidak bersalaman (seraya mencium tangan) kepada orang tua ketika bertemu. Inilah symbol dari sebuah kultur budaya Indonesia asli, dimana yang tua menghormati yang muda dan begitupun sebaliknya”, kata Moh. Nafiq Kepala SDN Sugihwaras.

Lebih lanjut Nafiq mengatakan Tradisi salaman pagi harus terus dikembangkan di sekolah-sekolah yang lain. Guru wajib menyambut para peserta didiknya yang tiba di sekolah. Ini merupakan sebuah apresiasi yang tidak akan pernah ada dalam kurikulum kita. Budaya ini terus berkembang melalui hidden curriculum yang dikembangkan melalui budaya sekolah (school culture) yang tetap eksis dan terus dilestarikan. Tradisi bersalaman tak akan punah apabila para pendidik memahami akan kebermanfaatan salaman pagi itu.

Manfaat paling terasa dari tradisi salaman pagi adalah membuat para guru lebih tahu dari awal, mana siswa yang telah siap belajar, dan mana siswa yang belum siap belajar. Hal itu terlihat mudah dari wajah-wajah mereka. Siapa saja siswa yang telah siap datang ke sekolah, maka ada keceriaan di sana. Ada senyuman manis di bibir yang seolah mengatakan, “saya sudah siap belajar hari ini”. (Omdik).