Baznas Nobar Film Impian Negeri Berkabut

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA: Bertempat di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/2/2018) para pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yakni Ketua Baznas Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, CA, Deputi Baznas Arifin Purwakananta dan Mohammad Nasir Tajang nonton bareng film Impian Negeri Berkabut.

Hadir pula Wakil Bupati Wonosobo Ir. H. Agus Subagyo, M.Si, Sekjen SBMI, Bobby Anwar Maarif serta Produser dan pemain film Impian Negeri Berkabut, Maizidah Salas, serta para wartawan.

Film ini mengisahkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri (migrant) yang hidupnya mendapatkan tindak kejahatan hingga mengalami perdagangan manusia (trafficking).

Film Impian Negeri Berkabut ini dibuat oleh Serikat Buruh Migrain Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah.

“Kami melihat para migrant Indonesia yang digambarkan pada film ini hidupnya memprihatinkan Baznas selaku pelaksana pengelolaan zakat sangat mendukung upaya menyetop dan melawan perdagangan manusia karena memang diperintahkan oleh Islam sebagai ajaran yang melandasi gerakan zakat,” ujar Ketua Baznas Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, CA, usai nonton bereng film Impian Negeri Berkabut.

Menurut Bambang, pihaknya perlu masuk pada berbagai kasus penderitaan pekerja migrant yang dalam UU yang baru istilah yg dipakai adalah PMI, Pekerja Migrant Indonesia.

‘Minimal ada 3 penerima manfaat Zakat yang mengkaitkannya yakni Fakir dan Miskin dimana banyak pekerja migrant yang berangkat ke luar negeri karena kasus-kasus kemiskinan dan kasus-kasus ikutannya. Berikutnya adalah asnaf Riqob atau perbudakan. Yaitu adanya praktek perdagangan manusia dalam banyak kasus pekerja migrant di berbagai negara,” jelas Bambang.

Mantan Menteri Pendidikan era SBY ini memaparkan upaya-upayanya dalam membantu migrant atau purna migrant adalah dengan memberikan layanan dan pendampingan migrant, bantuan kasus pemulangan pekerja migrant dan bantuan pemberdayaan purna migrant.

Ia juga mendorong dakwah bagi migrant dan dukungan shelter bagi mereka yg berperkara. Sedangkan pendekatannya untuk berbagai permasalahan migrant ini dilakukan dalam bentuk bantuan advokasi, bantuan sosial dan bantuan pemberdayaan ekonomi akan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

Bambang pun mendukung kerjasama berbagai pihak untuk terus membantu dan menyuarakan penolakan kepada praktik perdagangan manusia serta mendorong kemandirian migrant agar mencapai visi migrant Indonesia yakni Sukses Di Rantau, Mandiri Di Negeri Sendiri.

“Kami ingin memberikan edukasi sehingga kepedulian terhadap wanita dan pekerja migrant semakin bertambah. Selama ini Baznas sudah memiliki perwakilan di Hongkong dan Korea, dan akan ditingkatkan di berbagai negara lainnya,” ungkap Bambang.

Sementara itu, Direktur Koordinasi Pendistribusian, Pendayagunaan, Renbang Diklat Nasional Baznas, Mohammad Nasir Tajang menyampaikan, dalam Islam begitu dimuliakannya wanita sehingga membuatnya tidak tinggal diam dengan kedzaliman terhadap wanita. Untuk itu pihaknya ingin memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan ini.

“Sebagai bangsa Indonesia dengan mayoritas umat Islam, tentu kami sangat prihatin bahwa banyak sekali saudara-saudara kita yg diperdagangkan di luar negeri, terlebih untuk para perempuan.  Padahal betapa mulianya wanita di dalam Islam,” kata Nasir.

Ia mengungkapkan Baznas sebagai lembaga zakat tentu harus juga memberikan konsen terhadap permasalahan perempuan dan juga para buruh migran tersebut. Dalam zakat harus memberikan perhatian agar kemiskinan yang dihadapi umat Islam Indonesia tidak menyebabkan dia berbuat maksiat hingga menjual seseorang terlebih perempuan.

“Disini kami akan konsen bagaimana saudara-saudara kita yang hidup garis kemiskinan bisa berdaya sehingga bisa menolak segala bentuk kedzaliman agar saudara  saudara kita bisa berdaya sehingga tidak harus menjual diri untuk hidup layak,” tutur Nasir. @Fatih