Air Suci Yadnya Kasada Suku Tengger

Masyarakat Suku Tengger, penganut Agama Hindu (Budha Mahayana/Prisada Hindu Jawa Timur) membuang sesaji Ongkek ke kawah Gunung Bromo.

“Upacara Kasada ini adalah poin utama bagi warga Tengger Bromo. Prosesinya, mereka membawa sesaji dalam jumlah banyak, berupa hasil pertanian, buah-buahan, juga hewan ternak.

Sebelum melakukan upacara yang dilakukan saban malam ke-14 bulan Kasada–biasanya jatuh pada 9 atau 10 Juli–pada penanggalan Jawa, banyak masyarakat Tengger meraup, atau dalam bahasa Jawa, ngalap berkah melalui air suci dengan melakukan Mendak Tirta.

Prosesi pengambilan air suci ini dipercaya berkhasiat melancarkan rezeki, jodoh, karier, dan sebagainya.

Mendak Tirta hanya boleh dilakukan tiga hari sebelum pelaksanaan ritual adat Yadnya Kasada, yakni pada Sabtu atau Jumat legi. Selain waktu-waktu itu, Mendak Tirta tak boleh dilakukan sembarangan.

Lokasi untuk mendapatkan air suci ini pun hanya berada di empat titik, yakni di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan, Malang. Salah satunya lokasi air suci yang terletak di Gua Widodaren, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lokasi gua ini berada di sebuah bukit terjal di balik Gunung Batok.

“Air suci yang diambil dari berbagai tempat itu nantinya digiring dalam kirab dan dibawa ke Pura Luhur Poten di Gunung Bromo untuk digunakan sebagai kelengkapan upacara Yadnya Kasada. Air dari berbagai tempat itu, disandingkan dengan air suci yang diambil dari tempat lain,” tutur Ngatek, tokoh Mendak Tirta. Foto_kanalindonesia.com/kurniawan/18.