Oleh-oleh DPRD Gresik Dari Kunjungan Kerja di Bandung

KANALINDONESIA.COM, BANDUNG: Demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gresik tidak segan untuk berguru ke kota/kabupaten lain di Indonesia.

Terbaru, para petinggi DPRD Gresik bersama dengan Komunitas Wartawan Gresik (KWG) mengadakan kunjungan ke Bandung, guna mempelajari faktor-faktor tata kelola pariwisata di daerah tersebut, yang sanggup memberikan dampak siginifikan kepada PAD.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran DPRD Gresik, termasuk Ketua H.Abdul Hamid, Wakil Ketua Moh.Syafi‘ AM, Ketua Komisi II Solihudin, Sekretaris Najikh, dan para anggota KWG, menggelar ajang silaturrahmi sekaligus diskusi, bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, bertempat di Gedung Bandung Creative Hub (BCH), pada Sabtu (10/3/2018) lalu.

“Dari kekuatan APBD Bandung tahun 2018 kisaran Rp6,36 triliun, total PAD dari objek wisata berhasil menyumbang sekitar 30 persen,” ungkap Abdul Hamid.

Hal itu tak lain, masih kata Abdul Hamid, karena Pemkot Bandung dinilai berhasil mengembangkan berbagai pariwisata kreatif, yang bisa menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Itu yang ingin kami adopsi. Dengan studi banding ini, kami berharap dapat mengadopsi Perda (Peraturan Daerah), sehingga nantinya Kabupaten Gresik juga dapat bisa meningkatkan PAD melalui sektor pariwisata,” terangnya.

Abdul Hamid menjelaskan, bila ditilik lebih lanjut, Kota Pudak-sebutan bagi Kabupaten Gresik, sebenarnya sudah memiliki beberapa tempat pariwisata yang bisa mewujudkan hal itu, seperti kawasan wisata religi makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim. Bahkan, dua objek wisata religi ini sudah menghasilkan PAD mencapai Rp2 miliar lebih per tahun.

Namun hal itu dirasa masih kurang, sehingga diperlukan beberapa tempat lagi yang bisa digali atau dieksplor lebih lanjut. Termasuk, menciptakan beberapa tempat wisata baru hasil kreativitas masyarakat setempat.

“Termasuk beberapa wisata alam dan bahari di Pulau Bawean, yang masih belum tergarap secara maksimal. Begitu pula Bukit Surowati serta Pantai Delegan di Kecamatan Panceng, yang bisa maksimal mendapatkan penghasilan bila dikelola dengan baik dan profesional,” katanya.

Mendengar aspirasi itu, Kasi Pengelolaan Kepariwisataan Disbudpar Pemkot Bandung Sri Susiagawati mengaku, pihaknya juga melakukan beberapa hal kreatif dan inovatif dalam mengelola objek wisata di Bandung, sehingga dapat berlangsung maksimal.

“Salah satunya, kami membuat taman-taman kota sebagai wahana wisata keluarga yang nyaman nan murah. Pariwisata di sini (Bandung) sudah tertata, baik tempat maupun regulasinya, karena Pemkot Bandung dalam pengembangan pariwisata mempunyai Perda,” ucap Sri.

Ia lantas merujuk, Perda Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan dan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata (Riparda), yang menjadi ‘pijakan’ Pemkot Bandung dalam menata dan mengelola objek wisata.

Terlebih pengelolaan wisata di Kota Bandung selama ini, juga tak lepas dari peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang saling bersinergi. Peran OPD dirasa cukup penting, dalam memajukan sektor pariwisata yang ada di kota berjuluk kembang tersebut.

 

“Sekedar contoh, untuk mengelola sebuah wisata baru diperlukan aneka jenis olahan yang akan dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Tentu ini diperlukan usaha kreatif masyarakat setempat, dengan di bawah binaan Dinas Perdagangan dan UMKM. Sementara untuk infrastruktur, tentu harus menggandeng Dinas PU (Pekerjaan Umum),” jelas dia.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat Disbudpar Pemkot Bandung, Ari Astutik PR menambahkan, dengan adanya pembinaan akan usaha kecil yang dilakukan oleh warga, selain dapat menambah PAD juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Dengan begitu, ekonomi masyarakat juga terangkat dan akan semakin sejahtera. Namun tentu saja, itu harus dapat dikelola dengan baik dan tetap dalam pembinaan Dinas Perdagangan dan UMKM. Karena saya yakin, kalau hal ini mampu disinergikan, sudah pasti akan membawa dampak yang besar,” tutur Ari. (zah/adv)