Dishub Rubah Jalur Sepihak, Warga Tutup Rambu Dengan Sak Semen

rambu lalulintas yang dipasang Dishub ditutupi sak semen bekas

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Warga Kelurahan Kepanjen Jombang, Jawa Timur, tolak adanya perubahan jalur, di jalan Jaya Negara. Penolakan ini merupakan buntut dari adanya perubahan jalur dari dua arah menjadi satu arah, yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan (Dishub). Rambu yang dipasang Dishub, ditutup warga menggunakan sak semen bekas.

Warga setempat yang berada di RT 7, RW 7, yang mayoritas jadi pedagang, takut merugi, karena adanya perubahan jalur tersebut. Dan parahnya lagi warga setempat merasa tidak diajak sosialisasi oleh dinas terkait.

“ kita ingin memberikan masukan pada Dinas terkait, kalau ingin merubah jalur arus lalulintas, seharusnya tidak dilakukan seketika itu juga, langsung memberi rambu, jelas warga sekitar itu kaget dan bingung,” kata Guntur, warga setempat saat ditemui sejumlah jurnalis (12/3/2018).

Bahkan warga merasa pihak Dishub tidak memanusiakan, penduduk sekitar yang sebagian berdagang di sepanjang jalan tersebut. “ mereka itu (red: Dishub) tidak memperhitungkan dampak social ekonomi, kalau pekerjaan sepi, siapa yang ganti, apakah mereka mau mengganti,” keluh Guntur.

Saat disinggung apakah ada sosialisasi dari Dishub, pada warga sekitar, Guntur mengaku bahwa tidak ada sosialisasi dari Dishub, mengenai perubahan jalur dari dua arah menjadi satu arah.

“ belum pernah mas, cuman tadi malam itu ada surat, dititipkan RW, katanya aka nada sosialisasi, sperti itu saja, tiba-tiba paginya rambu diaktifkan, kan warga jadi kaget toh mas, warga seharusnya kan diajak ngomong dulu, bukan langsung kayak gini,” ungkapnya.

Masih menurut Guntur, permintaan warga sangatlah sederhana pada dinas terkait, yakni warga meminta rencana Dishub tersebut dibatalkan, mengingat dasar Dishub merubah jalur dari dua arah menjadi satu arah tidaklah tepat.

“ dasar merubahnya apa, sampena liat apa ada kemacetan disini, kalau seumpama sampean naik mobil bapal dan dari pertigaan sini sampai lampu merah butuh waktu satu jam, nah itu baru namanya macet mas, lawong jalan dari sini ke sana hanya butuh waktu lima menit kok katanya macet,” tegas Guntur.

Hal senada juga disampaikan oleh Sujak, salah satu warga setempat yang memiliki usaha apotik di jalan Jaya Negara, pada sejumlah jurnalis pihaknya menuturkan bahwa, titik kemacetan itu ada di ujung barat yang dekat dengan traffic light.

“ sumber kemacetan itu ada di ujung sana (red: perempatan lampu merah RSUD Jombang) mas, pada jam-jam tertentu memang macet di sana. Yak arena jalannya sempit, banyak kendaraan parkir, dan sejumlah pedagang di trotoar,” papar Sujak.

Seperti diberitakan sebelumnya, Imam Sujianto, selaku kepala Dishub Jombang, membantah bahwa pihaknya minim melakukan sosialisasi, dan pihak Dishub berdalih bahwa perubahan jalur tersebut, atas dasar menanggapi masukan dari masyarakat terkait kondisi jalan yang sudah overload, seperti di Jl. Jaya Negara. Sehingga Dishub dan forum lalulintas memerlukan rekayasa lalulintas untuk keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

“Ini permanen mas, nanti kalau di SK kan oleh Bupati. Otomatis dalam waktu satu dua bulan ini ada evaluasi ya,” tegas Imam.

Dari data yang dihimpun redaksi, titik jalan yang mengalami perubahan yakni di Jl. Jaya Negara dengan ketentuan kendaraan dari arah timur ke barat tidak boleh melintas. Sedangkan di Jl. RE Martadinata, kendaraan dari arah utara tidak boleh melintas ke arah selatan, dan di Jl. Seroja, kendaraan dari arah timur tidak boleh melintas ke barat.(elo)