Baznas Bangun Instalasi Air Bersih untuk Warga Asmat

Direktur RSBI dan Ketua Tim Crisis Center Baznas dr. Meizi Fachrizal Achmad, M.Si bersama Bupati Asmat, Elisa Kambu meresmikan instalasi sterilisasi air minum untuk warga Asmat di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, Selasa (13/3/2018).

KANALINDONESIA.COM, ASMAT: Sejak merebak kasus KLB campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat di awal tahun 2018, Tim Crisis Center Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dipimpin dr. Meizi Fachrizal Achmad, MSi pada tanggal 18 Januari 2018 langsung bergerak cepat terjun ke lokasi membantu pemerintah dalam menanggulangi kejadian tersebut.

Masih di lokasi sampai saat ini, tim Baznas merealisasikan program kesehatan, bantuan sarana lumbung pangan serta penyediaan sarana air bersih. Dan, sudah ada dua posko kesehatan yang didirikan, yaitu di Distrik Agats dan Distrik Peer.

Salah satu hasil nyata yang dikerjakan untuk masyarakat Asmat adalah membangun instalasi sterilisasi air minum di area Masjid An Nur, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua,

Program yang didanai Baznas dan beberapa donatur ini diresmikan Bupati Asmat, Elisa Kambu, di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, Selasa (13/3).

Acara ini dihadiri unsur muspida, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat.

Menurut Direktur Pendistribusian Zakat Nasional Baznas, Mohd. Nasir Tajang, sebagai tahap awal di instalasi ini dibangun di dua lokasi yaitu di Masjid An Nur yang menjadi pusat posko Tim Crisis Center dan di RSUD Asmat.

“Bupati Asmat sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih serta penghargaan kepada Baznas yang telah memulai program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat ini. Bupati berharap kasus penyakit akibat konsumsi air tidak bersih akan berkurang dan kesehatan masyarakat akan meningkat,” tutur Nasir dalam pernyataan pers diterima Kanalindonesia.com di Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Nasir menjelaskan, air minum yang diberikan untuk masyarakat ini akan dikembangkan dengan sistem pembayaran murah atau barter dengan sampah plastik kemasan air minum.

“Semoga daerah di Distrik Agats berkembang menjadi kota yang bersih dan indah. Bagi pasien yang dirawat di RSUD akan diberikan secara gratis,” ujar dia.

Ditambahkan oleh dr. Meizi Fachrizal Achmad, MSi, selaku ketua Tim Crisis Center Baznas menjelaskan, salah satu masalah terbesar pada masyarakat di Kabupaten Asmat adalah sulitnya mendapatkan air bersih.

“Hingga saat ini seluruh masyarakat masih mengandalkan sepenuhnya dari air hujan yang ditampung ke dalam tanur,” kata dr. Fachri yang juga menjabat

Direktur Rumah Sehat Baznas Indonesia (RSBI) yang mengepalai enam RSBI di beberapa provinsi di Indonesia.

Kondisi ini, lanjut Fachri, mengakibatkan banyaknya kasus penyakit yang disebabkan kekurangan air bersih, seperti diare, kulit, dan sebagainya.

Selain itu, masalah air bersih ini menjadi faktor penyebab terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat beberapa waktu lalu.

“Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus membeli air mineral dalam kemasan, memasak air dengan kompor gas atau kompor minyak yang harganya relatif mahal. Dengan pendapatan masyarakat Agats yang rata-rata masih rendah, hal ini tentu sangat memberatkan. Bahkan tidak sedikit warga yang langsung mengonsumsi air hujan. Jika masalah ini tidak diselesaikan, maka kasus KLB bukan tidak mungkin akan terulang kembali,” ucap dia.

Sementara itu, Dr. Budi Laksono, MHSc, salah satu pakar kesehatan lingkungan yang bergabung dalam Tim Krisis Center Baznas, mengaku memperkenalkan program instalasi air minum dengan ultra violet dan ozon yang sangat murah dan praktis.

“Dengan pembuatan instalasi ini, masyarakat akan mendapatkan air minum sehat dengan harga murah, sehingga ekonomi keluarga terbantu. Diharapkan setiap instalasi ini akan menghasilkan air minum sebanyak 1000 liter per hari,” kata Budi Laksono. @Rudi