Disdag NTB Imbau Pedagang dan Distributor Jaga Kestabilan Harga

Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani ke dua dari (kiri), bersama tim tengah memantau harga daging ayam telur ayam ras di pasar Pagesangan, Senin (11/6/2018)

MATARAM, KANALINDONESIA.COM: Setelah sempat stabil belum lama ini, harga komoditas daging ayam dan telur ayam ras kembali merangkak naik. Sementara beberapa komoditas lainnya masih dalam kondisi stabil dan cenderung turun. Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam ras diduga untuk menjaga jumlah stok menjelang Idul Fitri 1439 H mendatang.

“Kita lakukan pantauan di Pasar Pagesangan dan beberapa distributor,” ujar Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani bersama tim pemantau, Senin (11/6/2018).

Ia menuturkan, memasuki H-4 Hari Raya Idul Fitri 1439 H pihaknya rutin melakukan pantauan stok dan harga di seluruh pasar tradisional di Kota Mataram. Berdasarkan pantauan di pasar Pagesangan, harga sejumlah komoditas masih stabil. Namun sebagian juga mengalami kenaikan harga. Seperti beras premium seharga Rp 10 ribu per kilogram, beras medium Rp 9 ribu per kilogram, daging sapi murni Rp 120 ribu per kilogram, dan bawang putih Rp 24 ribu per kilogram, ini merupakan komuditas yang masih stabil harganya.

Sementara kenaikan harga justru terjadi di komoditas bawang merah sebesar Rp 30 ribu dari sebelumnya Rp 28 ribu per kilogram. Cabai merah keriting naik menjadi Rp 25 ribu dari Rp 20 ribu per kilogram. Cabai merah besar naik menjadi Rp 30 ribu dari Rp 25 ribu per kilogram. Namun kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada komoditas cabai rawit Rp 47 ribu dari Rp 40 ribu per kilogram, daging ayam broiler menjadi Rp 40 ribu dari Rp 35 ribu per kilogramnya.

“Telur ayam ras ukuran sedang kembali naik menjadi Rp 1.600 dari Rp 1.400 per butir,” sambungnya.

Kenaikan harga telur dan daging ayam tersebut kemudian ditelusuri Selly bersama tim Satgas Pangan Poldan NTB dan Kepala Perwakilan BI NTB ke distributor utama. Untuk telur, pihaknya melakukan pengecekan di UD Sinta yang merupakan distributor telur terbesar di Kota Mataram.

Kepala Gudang UD Sinta Hardianto menerangkan, kenaikan harga sudah terjadi sejak 6 Juni lalu. Kenaikan tersebut sebesar Rp 1.000 per tray dan tergantung ukuran dan kualitas telur. Telur kualitas TK seharga Rp 1.390 per butir atau Rp 41.700 per tray. Telur kualitas T seharga Rp 1.430 per butir atau Rp 42.900 per tray. Telur kualitas C seharga Rp 1.530 per butir atau per Rp 45.900 tray. Telur kualitas B seharga Rp 1.650 per butir atau Rp 49.500 per tray.

“Kualitas B+ seharga Rp 1.700 per butir atau Rp 51.000 per tray,” kata pria yang disapa Anto itu.

Setelah melakukan pantauan harga di UD Sinta, Selly dan tim kemudian mengunjungi PT Mitra Sinar Jaya (MSJ), distributor ayam terbesar di Kota Mataram.

Manajer Marketing PT MSJ Lalu Saufilian menerangkan, kenaikan harga daging ayam broiler karena meningkatnya permintaan menjelang hari raya Idul Fitri 1439 H. Meski begitu, ia memperkirakan harga akan stagnan sampai dengan hari Lebaran.

“Harga jual dari perusahaan saat ini Rp. 22 ribu per kilogram berat hidup,” pungkasnya.

Selly menambahkan, Secara umum harga Bapok di wilayah Kota Mataram masih stabil dan stok cukup tersedia. Kenaikan harga beberapa komoditas masih dalam tahap yang wajar. Hal tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dan psikologi pedagang yang cenderung menaikan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni hari raya Idul Fitri 1439 H Tahun 2018.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Achris Sarwani mengatakan, perusahaan sudah memiliki perencanaan awal. Perencanaan tersebut terkait jumlah kebutuhan masyarakat akan komoditas tertentu. Perusahaan MSJ sudah memprediksi puncak permintaan meningkat pada Rabu mendatang. Meski begitu mereka sudah melakukan penjagaan stok.

“Sebab lebih bahaya jika harga tinggi tapi stok itu tidak ada,” tandasnya.

Ia juga mengimbau agar distributor untuk menjaga kestabilan harga pangan. Diantaranya dengan tidak menaikkan harga terlalu mahal dan memberatkan masyarakat. (Idam)