Bedah Buku” Dalane Uripku” Karya Suprawoto, Selalu Ada Jalan Dalam Setiap Persoalan

MAGETAN, KANALINDONESIA.COM: Bedah buku” dalane Uripku” karya Suprawoto,mantan pejabat Sekretaris Jenderal Kementrian Komunikasi dan informatika(Kemkominfo) Republik Indonesia era SBY terasa syarat dengan makna.terlebih bedah buku biografi di kupas oleh para ahli literasi,Rakhmat Giryadi, dari Sidoarjo dan TjahjonoWidaryanto dari surabaya.

Rakhmat Giryadi,dalam sambutannya menegaskan,bedah buku Biografi “Dalane Uripku” ini berbeda dibandingkan dengan buku lainnya. Bedanya buku tersebut berbahasa jawa, syarat makna dan sangat detail dalam urutan cerita kang woto sejak kecil.

“ berbahasa jawa, ini sangat sulit meski kita orang jawa, kang woto sangat detail akan kata per kata, kalimat perkalimat, dengan menceritakan masa lalunya, ini termasuk kunci hidup seorang suprawoto, dia mampu dengan detail menceritakan masa lalunya.yakni dekat dengan teman- teman, tangkas, ringan membantu, meski ada sedikit usilnya”. Jelas Rakhmat.(11/6)

Yang menjadi keunikan, lanjutnya,adalah saat bercerita tentang sudut pandang akunya,namun bisa menjadi pelajaran bagi kita. meski ber kategori Autobiografi, buku “ Dalan Uripku” bisa menjadi literasi bagi pembacanya.

Turbulensi buku ini adalah sewaktu masih menjabat, saat mengadakan tes CPNS, dimana dalam proses pelaksanaannya terjadi gagal cetak dan harus di tunda, pada saat itu bukan seharusnya Prawoto yang bertanggung jawab, namun dia yang akhirnya mampu menyelesaikan permasalahannya.

“Selalu ada jalan keluar,itu yang selalu bisa prawoto lakukan, seperti saat PON(pekan olah raga nasional) di jatim, selalu bisa memberikan solusi, akhirnya bisa berhasil PON nya, ibarat misalkan Sebuah perusahaan memiliki pimpinan seperti Suprawoto, karyawannya pasti akan senang”. Tambah Rakhmat.

Buku Tebal berbahasa jawa tersebut, menurut rakhmat, saat pertama kali membacanya,terinspirasi jika suatu saat bisa menjadi sebuah Novel.

Lain halnya dengan Tjahjono Widaryanto, menurutnya dalam” Dalan Uripku” karya Ki Suprawoto, demikian dia memanggil Suparwoto,ada teks kultural yang tersirat di dalamnya.Dalam karyanya yang berbahasa jawa ngoko, Suprawoto ingin membuka seluas- luasnya pengalaman sejak masa kecil, ingin membagikan pengalaman, dan membangun sebuah wacana demokrasi yang baru.

“Ada bab yang menarik di dalam bukunya,yang mengupas tentang organisasi.prawoto dalam karyanya memilih kategori non fiksi,tidak seperti misalkan andrea hirata, yang memilih fiksi ini yang menarik”. Terang dosen,Penulis dan juga sastrawan ini.

Di akhir sambutannya, Tjahjono mengaku bangga dan mengapresiasi tinggi atas terbitnya buku biografi” Dalane Uripku” karya Suprawoto ini, walaupun ada latar belakang kepentingan politik, menurutnya tidak mengurangi nilai dari buku tersebut.bahkan bisa menjadi contoh di saat banyaknya praktek Banalisasi politik dalam kampanye politik.

Ditambahkan Tjahjono,Upaya kampanye politik melalui literasi dan penerbitan buku merupakan kegiatan yang lebih bernalar, lebih mulia,lebih bermartabat dan cendikia” ini yang harusnya di tiru oleh insan-insan politik praktis”.terangnya

Diketahui,Bedah buku  ini diselenggarakan oleh para pegiat buku magetan yang memiliki sense of literasi. kegiatan Mojosemi Art Cam(Marca) ini diadakan di mojosemi forest park selama dua hari, senin- selasa(11/12), bertajuk kemah literasi dengan bedah buku karya Suprawoto berjudul” Dalan Uripku”.(choi)