Stok Cabai di Sentra Aman, Harga Dipastikan Normal Kembali Setelah Lebaran

PANTAU: Rombongan Dinas Perdagangan NTB bersama Kasubdit Kelembagaan Direktorat Pemberdayaan Konsumen Ditjen PKTN Kemendag RI, Pjs Bupati Lombok Timur H Ahsanul Khalik melakukan pemantauan ke sentra cabai H Subhan, Rabu (13/6/2018)

MATARAM, KANALINDONESIA.COM: Jelang Idul Fitri 1439 H, komoditas cabai mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Mengantisipasi agar tidak menyebabkan inflasi, Dinas Perdagangan NTB bersama Kasubdit Kelembagaan Direktorat Pemberdayaan Konsumen Ditjen PKTN Kemendag RI melakukan pemantauan petani cabai dan harga bapok pasar tradisional di Lombok Timur.

Kegiatan pemantauan tersebut juga diikuti Pjs Bupati Lombok Timur H Ahsanul Khaliq, Kadis Perind Lombok Timur Teguh Sutrisna, dan Satgas Pangan Polres Lombok Timur. Tim melakukan pemantauan di sentra cabai milik H Subhan di dusun Bong Kembalikan, Desa Kerongkong Kecamatan Suralaga.

Subhan menjelaskan, stok cabai di sentra cabai cukup, bahkan di lahannya sudah siap panen. Namun saat ini kekurangan tenaga pemetik sejak H-5 menjelang hari raya Idul Fitri 1439 H. Tenaga pemetik didominasi oleh wanita yang saat ini sibuk membuat jajan/kue persiapan Lebaran.

“Rata-rata masih sibuk buat persiapan lebaran,” akunya, Rabu (13/6/2018).

Disamping itu petani banyak yang menanam cabai hijau (caplak hijau) karena usia panennya selama 2,5 bulan dan sudah memiliki pangsa pasar di Pulau Jawa dan Sumatera. Sedangkan cabai rawit lokal paling lama 5 bulan sehingga banyak petani yang beralih menanam cabai caplak.

Harga cabai rawit lokal di tingkat petani saat ini Rp. 35.000,- per kilogram. Hingga dan pihaknya saat ini tidak pernah mengirim cabai rawit lokal keluar wilayah NTB. Tenaga pemetik akan kembali sekitar H+1 Lebaran, sehingga setelah itu dipastikan harga cabai akan kembali normal.

“Setelah lebaran harga pasti sudah turun dan normal,” katanya.

Selanjutnya rombongan meninjau lokasi lahan penanaman pohon cabai yang lokasinya berada di belakang rumah H Subhan. Berdasarkan hasil pantauan, tanaman cabai yang ada memang benar sudah siap panen. Bahkan ada beberapa pohon cabai beserta buah cabainya yang sudah mulai mengering karena usia panen telah lewat.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani mengatakan, kenaikan harga cabai di pasaran bukan karena jumlah stok cabai yang kurang. Maupun banyak yang dikirim keluar daerah NTB. Hal tersebut terkendala tenaga pemetik yang sudah tidak bekerja lagi sejak H-5 menjelang hari raya Idhul Fitri 1439 H.
“Pemerintah yang gak ada,” kata Selly.

Ia berharap pemilik sentra cabai agar segera mencari solusi. Diantaranya dengan memberdayakan tenaga pemetik laki-laki. Hal ini mengingat saat ini tenaga pemetik hanya dari kaum wanita.

“Agar harga cabai di pasaran kembali normal mengingat kebutuhan cabai saat ini meningkat,” sambungnya.

Selain mendatangi sentra cabai, rombongan juga melakukan pantauan harga bahan pokok di dua pasar tradisional Lombok Timur. Yakni Pasar Pancor dan Pasar Masbagik. Dari kedua pasar tersebut, komoditas telur, daging sapi, dan cabai rawit mengalami lonjakan harga.

Selly mengimbau, pedagang tidak menaikkan harga bahan kebutuhan pokok dengan semaunya, karena harga pasar sudah ada ketentuannya. Sementara bagi pedagang yang sudah mendapat teguran terkait harga penjualan dan masih tetap menjual dengan harga tersebut, akan diberikan tindakan tegas sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Pasca lebaran harga cabai akan kembali normal,” ujarnya.

Terpisah Kasubdit Kelembagaan Direktorat Pemberdayaan Konsumen Ditjen PKTN Kemendag RI Wahyu Haryo Kusumo mengatakan, harga telur standarnya Rp 40.000 per tray. Di wilayah Lombok Timur harganya variatif berkisar Rp 42.000 hingga Rp 45.000 per tray.

Meski begitu, secara umum harga bahan kebutuhan pokok stabil dan lonjakan harga telur tidak begitu signifikan. Sedangkan cabai hanya terkendala tenaga pemetik, bukan karena kekurangan stok.

“Tidak juga karena lebih banyak yang dikirim ke luar daerah,” tandasnya. (Idam)