1.000 Nelayan NTB Kembali Terima Mesin Konverter BBG

Kepala Bidang Tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan NTB Beny Iskandar, saat di wawancara, Senin (9/7/2018). (foto: Idham_kanalindonesia.com)

MATARAM,KANALINDONESIA.COM: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus menggencarkan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Hal ini dinilai mampu menjawab sejumlah permasalahan nelayan terkait bahan bakar. Setelah Lombok Timur, tahun ini nelayan Lombok Barat dan Kota Mataram yang mendapatkan bantuan 1.000 mesin konverter kit BBG.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan NTB Beny Iskandar. Ia menuturkan, Kementerian ESDM memberikan bantuan langsung ke masing-masing kabupaten/kota. Bantuan tersebut untuk mempermudah nelayan dalam melakukan aktivitas melaut. Konversi ke BBG tersebut dinilai bisa menekan biaya produksi hingga diatas 50 persen. “Lebih irit,” ujarnya, Senin (9/7/2018).

Ia mengatakan, BBG memiliki banyak keunggulan. Selain menekan biaya operasional, penggunaan konverter kit juga untuk merubah mindset nelayan agar tidak bergantung dengan BBM. Nelayan yang sudah menggunakan BBG itu pastinya tidak perlu lagi ke sentra pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mengantri solar.

Konversi BBM ke BBG tersebut dinilai menjadi jawaban atas permasalahan sebagian besar nelayan. Terutama terkait keterlambatan bahan bakar maupun kekosongan di SPBU. Namun hal ini tentu masih menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meyakinkan masyarakat yang masih susah menerima suatu energi terbarukan.

“Ini yang terus kita perkenalkan,” sambungnya.

Konversi ini sudah dimulai sejak tahun lalu di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Sebanyak 2.000 mesin konverter kit diserahkan pada nelayan Lombok Timur dan Lombok Tengah sebagai ujicoba. Sementara tahun ini, sebanyak 1.000 konverter kit dijatahkan untuk nelayan Lombok Barat dan Kota Mataram.

“500 di Lombok Barat dan 500 lagi di Kota Mataram,” ungkapnya.

Beny mengaku pihaknya sudah diundang berdiskusi ke Bappeda NTB terkait hal tersebut. Untuk kabupaten/kota khususnya yang berada di Pulau Sumbawa diagendakan menyusul untuk konversi ke BBG. “Konversinya bertahap,” katanya.

Penggunaan BBG memang lebih irit dibandingkan BBM. Hanya saja, BBG juga memiliki kelemahan. Yakni membuat laju sampan menjadi sedikit lamban. Meski begitu, hal ini tidak membuat hasil tangkapan nelayan berkurang dibandingkan saat menggunakan BBM.

“Saya rasa nelayan sudah tahu mana yang terbaik bagi mereka. Hanya tinggal bagaimana meyakinkan mereka yang belum untuk segera konversi,” pungkasnya.

Ia menambahkan, pemberian mesin konverter BBG tersebut tidak diberikan pada kelompok nelayan. Satu mesin konverter diberikan pada satu orang nelayan.

Sementara itu salah seorang nelayan Pondok Prasi Ampenan bernama Abidin mengaku tertarik dengan rencana konversi tersebut. Selama ini dirinya dan nelayan lain masih bergantung pada BBM untuk melaut. Terlebih lagi konversi tersebut bisa membuat biaya operasional nelayan semakin lebih kecil.

“Itu rencana bagus dan saya pasti dukung,” tandasnya. (Idam)