Laba PT Petrokimia Gresik Terhantam, Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Nugroho Christijanto (tengah) Direktur produksi PG, I Ketut Runaya (kanan), Direktur Teknik dan Pengembangan PG Arif Fauzan (kiri)saat Konvensi Inovasi Petrokimia Gresik (KPIG) XXXII di SOR Tridarma Gresik, Jawa Timur, Kamis (12/4/2018).

GRESIK,KANALINDONESIA.COM: PT Petrokimia Gresik (PG) merupakan saah satu perusahaan yang merasakan ‘hantaman’ keras melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS). Saat Dollar berada di kisaran  angka Rp13.000 pada tahun 2017, laba bersih perusahaan pupuk terlengkap di Indonesia itu sudah anjlok. Padahal pada tahun ini mata uang dari Negeri Paman Sam itu menyentuh tembus Rp14.000 lebih.

Direktur Utama (Dirut) PG, Nugroho Christijanto mengungkapkan jika net income PG pada tahun 2017 hanya Rp870 miliar atau turun 37 persen dibandingkan dengan tahun 2016 yang tembus sekitar Rp1,4 triliun. “Perlambatan ekonomi dan lemahnya nilai tukar Rupiah cukup berdampak pada beban perusahaan, mengingat sebagian besar bahan baku diperoleh dari impor,” ujar Nugroho saat Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) PG Ke-46 di Stadion Tri Dharma PG, Selasa (10/7/2018). kemaren.

Nugroho membenarkan jika besaran impor bahan baku yang dilakukan anak perusahaa PT Pupuk Indonesia ini mencapai 70 persen. Dan ia juga tidak mengeelak saat ditanya lemahnya nilai tukar Rupiah di tahun 2018 ini bakal sangat berdampak pada cost operasional yang harus dikeluarkan untuk memproduksi pupuk.

Menurutnya, membeli bahan baku dengan Dollar tapi menjualnya dalam Rupiah sebenarnya tidak match. Untuk menyiasatinya, Ia pun memastikan akan menggenjot ekspor pupuk yang selama ini sudah dilakukan.

“Kita beli bahan baku dengan Dollar, kita pun akan memperbanyak jual pupuk dengan Dollar juga,” ujar tanpa menyebut berapa besaran ekspor yang selama ini telah dilakukan PG.

Direktur yang mengawali kariernya di PG sejak tahun 1992 itu ini merasa beruntung karena PG tahun ini bisa memperkuat struktur bisnisnya dengan beroperasinya rampungnya Pabrik Amuniak-Urea (Amurea) II. “Tanggal 9 Juli 2018 Pabrik Amurea II memasuki performance test, dan hasilnya cukup bagus, melebih dari garansi yang diberikan kontraktor,” ungkapnya.

Selain mampu memenuhi kebutuhan Urea se-Jawa Timur, dengan beroperasinya Pabrik Amurea II ini bisa menekan impor Amoniak yang dijadikan bahan baku produksi Pupuk NPK dan Urea. Jika Amurea II beroperasi, PG hanya membeli Amoniak dari perusahaan lain sebanyak 60 ribu sampai 70 ribu ton saja per tahun. Selama ini, Amoniak yang dibeli dari impor mencapai 350 ribu sampai 400 ribu ton per tahun.

Melihat produktivitas PG selama 2017 sebenarnya mengalami peningkatan, yaitu 7,57 juta ton. DImana produktivitas Phonska PG secara keseluruhan mencapai kapasitas tertingginya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualannya pun sebenarnya tidak turun terlampau jauh. Pada 2017, penjualan PG mencapai Rp23,64 triliun atau hanya turun 8 persen dibandingkan 2016. Jika berpedoman rumus net income adalah penjualan dikurangi cost, artinya margin dimiliki terlalu kecil, atau costnya membengkak. Ini salah satunya dipengaruhi Dollar. (lan)