Kisah Legenda Ki Ageng Menak Sopal (ke 2)

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Kisah sebelumnya setelah Menak Sraba berhasil menyembuhkan Dewi Amisayu. Akhirnya Ki Ageng Galek mau menerima Menak Sraba sebagai anggota keluarganya dan di kawinkan dengan Dewi Amisayu.

Ketika Dewi Amis Ayu hamil 7 bulan. Menak Sraba memberi batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Diantaranya Dewi Amisayu tidak diperkenankan menjemur serta membuka tutup buah dadanya (mekak) dan ikat pinggang kain panjangnya (bengkung) pada waktu matahari terbenam atau waktu Magrib.

Namun Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak lain, larangan itu akhirnya tidak dapat dihindari. Pada suatu hari, ketika matahari terbenam Dewi Amisayu menjemur penutup buah dadanya dan membuka ikat pinggang kain panjangnya.

Tidak lama kemudian Dewi Amisayu terkejut, karena menemui buaya putih di dalam ruangan kamar tidurnya.  Apalagi buaya putih tersebut bisa berbicara seperti manusia. Buaya putih itu menerangkan bahwa sebenarnya dirinya adalah Menak Sraba.

Kemudian buaya putih itu berpesan, bahwa besuk bila Dewi Amisayu (istrinya) melahirkan dan anaknya laki-laki hendaklah diberi nama Menak Sopal.

Perlu diketahui, bahwa tidak diperkenankannya Dewi Amisayu menjemur atau bertelanjang bulat pada waktu matahari terbenam atau waktu salat Magrib. Karena pada saat itu Menak Sraba selalu melakukan shalat Magrib dengan khusuknya.

Tatapi Dewi Amisayu lupa dengan larangan yang telah disepakati dengan suaminya Menak Srabah dan  akhirnya melepaskan bajunya atau telanjang bulat. Sejak kejadian itulah Dewi Amisayu mengetahui bahwa suaminya sudah tidak beragama hindu lagi, tetapi sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Guna menghindari kekeruhan dalam keluarga dan keresahan rakyat Ki Ageng Galek, maka Menak Sraba kembali ke tempatnya semula yaitu Kedung Bagongan dan meninggalkan Dewi AmisAyu.

Beberapa tahun kemudian, setelah sepeninggalan Menak Sraba, Dewi Amisayu melahirkan dengan jenis kelamin laki-laki. Sesuai pesan dari Menak Sraba suaminya, maka bayi tersebut diberi nama Menak Sopal.

Seiring waktu Menak Sopal tumbuh dan cukup dewasa, lalu mohon keterangan dari ibunya siap ayahnya yang sebenarnya. Terpaksa Dewi Amisayu bersawantah (berterus terang) bahwa ayahnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan.

Ketika mendengar cerita ibunya, Menak Sopal segera dan mohon diri atau izin kepada ibunya (Dewi Amisayu) pergi untuk mencari ayahnya.

Pada akhirnya Menak Sopal berhasil bertemu dengan ayahnya di Demak Bintara. Disitulah kemudian Menak Sopal di didik dan di beri pelajaran agama Islam. Sepulang dari Kedung Bagongan menuju Trenggalek mulailah perjaka ini berfikir bagaimana cara agar rakyat Trenggalek memeluk agama Islam.

Pada waktu itu, rakyat Trenggalek sebagian besar bekerja sebagai petani, namun daerahnya sangat kekurangan air. Kemudian Menak Sopal berfikir dan dirasa perlu mendirikan tanggul air agar pengairan bisa memberi kemakmuran bagi rakyat Trenggalek.

Menak Sopal bersikeras untuk membuat tanggul, tetapi selalu gagal dan akhirnya meminta petunjuk ayahnya Menak Sraba. Kemudian oleh ayahnya diberi tahu, bahwa bendungan bisa terwujud bila di tumbali kepala gajah putih.

Setelah diberi tahu ayahnya, Menak Sopal langsung mengirim utusannya ke suatu tempat yakni di Randa Krandon atau janda yang bertempat di Desa Krandon. Janda itulah satu-satunya yang mempunyai gajah putih…..

bersambung….