Pertamina Sumbang BBM untuk Posko Pengungsian


Communication dan CSR Officer Pertamina Jatim Bali Nusra Edi Mangun (tiga kanan),menyerahkan sumbangan pada Koordinator Logistik Posko Utama Tanjung,

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Lombok Utara pasca gempa sempat mengalami kelangkaan. Hal tersebut membuat aktivitas yang menggunakan BBM juga sempat mengalami kendala. Ini yang mendorong Pertamina menyalurkan bantuan BBM ke Posko Utama, kamis (9/8/2018).

Communication dan CSR Officer Pertamina Jatim Bali Nusra Edi Mangun menuturkan, pada gempa pertama akhir Juli lalu, Pertamina menemukan kesulitan untuk menyuplai BBM. Terutama suplai BBM di Lombok Utara. Hal tersebut dikarenakan sejumlah infrastruktur pendukung di Lombok Utara mengalami kerusakan.

“Seperti jembatan di Kayangan, itu rusak,” ujarnya, kamis (9/8/2018).

Ia mengatakan, biasanya Pertamina menyuplai dengan truk kapasitas sebanyak 8.000 KL. Namun pasca gempa tersebut pihaknya tidak bisa lagi menyuplai sebanyak jumlah tersebut. Sebab jembatannya rusak dan dikhawatirkan membuat truk terguling.

Namun untuk mengantisipasi agar truk tidak terguling  dan BBM bisa tersalurkan, pihaknya akan menggunakan kapsitas 5.000 KL. Kendaraan ukuran tersebut bisa digunakan hingga di SPBU Pemenang, Tanjung dan Kayangan.

“Dan di Tanjung itu sebenarnya tidak bisa, tapi karena ini masalah darurat kami tetap masukan,” sambungnya.

Di SPBU Pemenang, Pertamina sudah mengirimkan 5.000 KL sebelum gempa 7,0 SR Minggu (5/8) lalu. Namun pasca gempa tersebut ternyata jembatan penghubung menuju SPBU semakin parah. Edi mengatakan, saat ini pihaknya tengah memikirkan cara untuk bisa menyalurkan suplai BBM menuju SPBU Kayangan.

“Sekarang sedang kita pikirkan caranya,” akunya.

Edi mengungkapkan, pihaknya tidak bisa melakukan penjualan dengan metode eceran. Sebab hal tersebut dilarang sesuai aturan. Namun hal tersebut akan berbeda ketika terjadi situasi darurat. Pertamina akan menyumbangkan BBM.

“Seperti untuk bapak-bapak TNI, kita menyumbangkan 5.000 liter solar,” pungkasnya.

Kelangkaan BBM di Lombok Utara sempat membuat harga melambung tinggi hingga 100 persen. Bensin dijual eceran dengan botol mineral kapasitas 1,5 liter seharga Rp 25 ribu.  Menanggapi hal ini, Edi mengatakan pihaknya berharap para pengecer untuk tidak memanfaatkan kondisi saat ini untuk meraup keuntungan banyak.

“Sebab itu dalam hal ini tentu koordinasi kepolisian dan TNI sangat diperlukan,” katanya.

Ia menambahkan, untuk bantuan dari Pertamina, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan BNPB. Pihaknya siap memenuhi berapapun permintaan untuk memperlancar proses tanggap bencana saat ini.

“Dan kalau memang ada permintaan kami pasti bantu,” tandasnya. (Idam)