Gempa Lombok Tak Lagi Berpotensi Tsunami

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

TANJUNG,KANALINDONESIA.CIM: Belum usai bekas gempa dahsyat sebesar 7,0 SR, Lombok Utara kembali diguncang gempa besar. Gempa berkekuatan sebesar  6,2 SR kembali mengguncang bumi Lombok Utara pukul 13.25 Wita. Hal ini kembali menimbulkan kepanikan masyarakat yang tadinya sempat kembali ke rumah masing-masing.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat di Pulau Lombok agar tetap waspada terhadap gempa susulan. Hal ini dikarenakan gempa susulan bersifat fluktuatif meskipun tidak sebesar gempa pertama. Masih ada gempa susulan sepert gempa yang terjadi Kamis siang pukul 13.25 wita dengan daya 6,2 SR. Gempa yang tergolong tektonik itu terpusat di 6 km Barat Laut Lombok Utara dengan kedalaman 12 km.

“Kita mengharapkan masyarakat tenang, namun tetap waspada. ” ujarnya saat berkunjung ke Posko Utama Tanjung, kamis (9/8/2018).

Selain waspada, masyarakat juga dihimbau untuk menghindari bangunan rusak ataupun tebing dan dataran tinggi yang berpotensi longsor. Ia melanjutkan, menurut analisa BMKG, gempa susulan masih terdeteksi di Pulau Lombok. Meski sifatnya fluktuatif, namun Dwikortika menyatakan potensi tsunami sudah tidak muncul lagi.

“Kalau berpotensi tsunami tidak bisa langsung dikategorikan sangat berbahaya dan awas . Potensi tsunami sampai 3,5 meter, atau bisa kurang sampai 1,5 meter itu waspada,” jelasnya.

Menurutnya,  potensi tsunami dimulai dari naik gelombangnya hingga setengah meter. Itu pernah terjadi di Manokwari Jayapura.  Itu pun merupakan rangkaian yang berasal dari gempa Jepang yang ketika sampai di Manokwari setinggih setengah meter.

“Sehingga tidak dianggap berbahaya,” sambungnya.

Namun Dwikorita mengatakan jika hal tersebut tidak bisa diremehkan. Meski hanya setengah meter pun bisa menjadi berbahaya ketika mencapai daratan. Setengah meter tersebut merupakan ketinggian diatas laut. Ketika mencapai daratan bisa menguat dengan ketinggian yang bertambah tinggi. Hal itu tergantung keadaan geografisnya di darat .

“Apakah itu datar atau cekung  atau ada teluk sehingga mengumpul di situ dan menguat. Oleh karena itu meskipun maksimum setengah meter  tetap untuk melindungi jiwa , tetap harus diberi peringatan,” paparnya.

Peringatan dini akan dikatakan bakal tsunami itu dalam 2 menit, atau bisa saja sampai sekian menit. Namun itu itu untuk tempat-tempat tertentu, seperti Lombok itu jaraknya dengan sesar naik. Sehingga jika terjadi tsunami, itu akan sangat cepat sekali.

“Sehingga lebih baik kalau bisa memang lagi ada di pinggir pantai dan ada bencana seperti ini lebih baik tidak usah mendengarkan peringatan dini. Lebih baik langsung  menyelamatkan diri, tidak usah menunggu,” pungkasnya.

Sementara itu Dansatgas tanggap bencana Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramadhani mengatakan, gempa susulan dengan daya 6,2 SR yang terjadi sempat membuat masyarakat panik. Namun selang beberapa menit kondisi kembali kondusif.

“Sekarang masih kondusif meski awalnya sempat panic,” katanya.

Sementara untuk jumlah korban dan kerugian material, Rizal mengaku masih mendata dampak dari gempa tersebut. Untuk pendataan tersebut, dirinya berkoordinasi dengan Babinsha, Babinkamtibmas, dan LSM di seluruh wilayah. Tujuannya untuk memastikan ada korban atau tidak yang terdampak akibat gempa susulan tersebut.

“Gempanya hanya 10 detik dan sempat panic, namun sekarang sudah bisa terkendali,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Operasi dan Pelatihan Basarnas Pusat Bambang Suryo Aji mengungkapkan perkembangan proses evakuasi korban gempa sebelumnya. Proses evakuasi sudah kembali dilanjutkan. Baik itu di Lading-Lading, Bangsal, dan longsor di Dompu Indah. Gempa susulan 6,2 SR membuat proses evakuasi menjadi lebih riskan menggunakan ekskavator.

“Jadi evakuasinya sempat kita hentikan sementara,” katanya.

Namun setelah gempa berakhir, pihaknya menggelar rapat internal dan memutuskan untuk melanjutkan proses evakuasi. Namun tidak bisa menggunakan ekskavator melainkan Alkon.  Hal tersebut dikarenakan evakuasi tersebut membutuhkan kehati-hatian ekstra. Sebab melihat guncangan yang tadi juga menyebabkan ada beberapa reruntuhan baru lagi.

“Dan korban yang di sana memang sudah di pastikan, sebab istri korban juga sudah melaporkan ke kita beberapa waktu lalu. Yakni suaminya dengan kedua anaknya yang sampai saat ini memang belum bisa di evakuasi,” jelasnya.

Sementara untuk evakuasi Lading-Lading, korban jiwa yang sudah ditemukan sebanyak 3 orang. Satu orang imam masjid pada saat gempa terjadi dan dua makmum yang tidak berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan, bau menyengat yang masih tercium hingga sekarang ini merupakan bau dari salah satu korban atau makmum yang kepalanya pecah tertindih bangunan.

“Meski demikian, kami akan tetap cari dan lanjutkan kembali pencarian korban. Demikian juga dengan yang di Masjid Karang Pansor Bangsal,”ungkapnya.

Dikatakannya, pihaknya memprediksi pada saat kejadian gempa memang pada saat solat sudah selesai dilaksanakan sehingga semua bisa menyelamatkan diri, kecuali yang tiga orang itu.

“Kami juga Tanya warga disana adakah keluarga mereka yang hilang. Namun, sampai sekarang ini tidak ada yang melaporkan,” jelasnya.

Bambang menambahkan, ia juga mendapatkan informasi jika jamaah yang solat di masjid tersebut tidak hanya warga Dusun Lading-Lading, melainkan warga pendatang. Sejumlah masyarakat mengaku tidak ada yang kenal.

“Dan sampai saat ini masih kita menunggu laporan keluarga korban, namun belum ada laporan,” pungkasnya .

Ia mengatakan, jika  ada data masuk dari masyarakat, pihaknya  pasti akan langsung melakukan pemeriksaan dan evakuasi. Pihaknya akan langsung melakukan tindakan di sana dengan terlebih dahulu mengintrogasi  warga sekitar.

“Kami tidak ingin sudah dilakukan pencarian ternyata tidak ada. Kita berlomba dengan waktu makanya kami tidak ingin ada yang sia-sia,” tandasnya.(Idam)