H. Achmad Khusairi, Pertahankan Kentrung Sebagai Warisan Leluhur

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Hawa dingin masih terasa menusuk pori-pori kulit walau waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Beberapa hari ini wilayah Lamongan terasa dingin.Jalanan desa yang menjadi jalur utama memasuki Desa Solokuro pun terasa ramai hilir mudik masyarakat yang banyak beraktivitas ke ladang.

Kami mencoba bertanya kepada salah satu warga akan keberadaan rumah H. Achmad Kusairi salah satu penggiat seni di Lamongan yaitu Kentrung. Salah satu kesenian yang mulai terpinggirkan. Tidak terlalu sulit menemukan rumahnya karena mayoritas masyarakat mengenalnya. Dalang

Kesederhanaan yang kami dapati setelah kami bertemu dengan tokoh seni yang satu. Nuansa desa yang ramah kami manfaatkan untuk berbicang tentang pribadi dalang kentrung yang masih mempertahankan kesenian warisan leluhur ini.

Kabupaten Lamongan, selain terkenal sebagai kota Soto, juga dikenal sebagai kota Budaya. Salah satu Budaya Kabupaten Lamongan berupa kesenian Kentrung. Kentrung di Lamongan berkembang di Desa Solokuro, Kecamatan Solokuro. Nama ketrung tersebur adalah Kentrung “Sunan Drajat”. Kentrung ini didirikan oleh seorang tokoh bernama H. Ahmad Kusairi, S.PdI.

Pria yang berumur 57 tahun ini tinggal di Desa Solokuro, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Di Desa tersebut ia lebih terkenal dengan sebutan Kyai Kentrung. Ia lahir di Desa Solokuro, Kecamatan Solokuro, pada tanggal 12 Agustus 1961. Saat ini ia tinggal bersama istrinya yang bernama H. Lutfiyah dan dua orang putranya H. Ach. Mizdat dan Ach. Yazid.

Selain sebagai dalang, H. Ahmad Khusairi, S.Pd.I juga berprofesi sebagai guru, petani, pedagang, dan perangkat desa. Menjadi guru Madrasah Ibtidayah Miftahul Ulum 1  di desanya telah digelutinya sejak tahun 1979.

“Saya baru lulus dari PGA 4 tahun. Pada waktu itu tidak banyak orang di sini mau jadi guru,” kenangnya

Hal tersebut yang membuat ia terpanggil untuk memajukan desanya,  ia memutuskan mengajar untuk mengabdi walaupun gaji yang diterimanya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagi dalang kentrung ini, guru adalah panggilan hidup. Selain guru, ia adalah pendiri Yayasan Miftahul Ulum Dusun Bango, Desa Payaman, Kecamatan Solokuro. Di sana ia menjabat sebagai Ketua Yayasan sejak tahun 1978 sampai sekarang. Di yayasan Miftahul Ulum 1 Desa Solokuro ia juga menjabat sebagai bendahara yayasan mulai tahun 1978 sampai sekarang. Tercatat pula, ia sebagai salah satu pendidiri Yayasan Miftahul Huda dan guru MI Miftahul Huda  Desa Kranji, Kecamatan Paciran tahun 1978.

Di bidang pemerintahan desa, ia adalah seorang perangkat Desa Solokuro yang bekerja sebagai Kaur Keaungan. Bekerja sebagai perangkat desa dijalani sejak tahun 1985.

Karena kebutuhan hidup sehari-hari membutuhkan banyak biaya, maka dalang kentrung ini juga menekuni dunia perdagangan. Ia membuka toko di Pasar Desa Solokuro. Pekerjaan ini dikerjakan bersama istrinya.

Bercerita dan memainkan alat rebana sudah ia sukai sejak ia masih kecil. Pada saat sekolah di madrasah ia sering disuruh tampil menjadi pencerita, atau bahkan berpidato di depan teman-temannya. Sedangkan bermain terbang ia lakukan pada saat ia masuk grup sholawatan di sekolahnya. Jiwa seninya timbul terutama saat ia masuk di PGA dan sering melihat dalang Kentrung Desa Payaman dengan dalang bernama Mbah Marko.

“Ketika menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah kebiasaan bercerita itu saya manfaatkan untuk mengisi jam-jam kosong, sebab banyak guru yang tidak mengajar karena guru tersebut nyambi bekerja di pertanian,” kata H. Khusairi

Siswa yang mendapat cerita dari dalang ini sangat antusias. Tak kalah strategi, dalang ini memotong ceritanya agar siswa lebih tertarik lagi

Sejak tahun 1991, setelah secara resmi mendidirikan lembaga kesenian yang ia beri nama Kentrung Sunan Drajat, ia mulai secara resmi menjadi dalang kentrung. Ia mendalang atas permintaan panitia suatu acara. Berbagai daerah telah ia kujungi dalam keperluan bermain kentrung, mulai dari Kabupaten Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Jember, dan beberapa kota di Pulau Madura.

Sampai sekarang H. Khusairi selalu mewarnai peringatan HUT Kemerdekaan RI di beberapa daerah karena dia selalu diundang untuk menghibur masyarakat saat malam peringatan hari kemerdekaan yang dirayakan pada bulan Agustus tersebut.(omdik/fer/bis)