Di Jombang Elpiji 3 Kg Masih Langka, Pedagang Warung Beralih Gunakan Kayu Bakar

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Meski sudah dilakukan operasi pasar oleh sejumlah agen usai mendapatkan perintah dari pertamina, atas kelangkaan gas elpiji 3 kg, di sejumlah Desa di Jombang. Kini kelangkaan elpiji 3 kg masih terjadi di Jombang.

Sejumlah pengecer, mengeluh atas kelangkaan elpiji 3 kg tersebut. Terhitung usai perayaan hari raya idul adha, elpiji 3 kg tersebut langka di pengecer. Jatah yang diterima pengecer dari agen yang semula 20 tabung per minggu kini, turun menjadi 5 tabung.

“Habis hari raya idul adha kemarin sudah langka. Biasanya di stok sampai 20, sekarang jatahnya dikurangi, ya sekarang dikasi 5 kadang 6 (red : tabung gas elpiji 3 kg), satu minggu sekali,” ujar salah satu pengecer gas elpiji 3 kg, di jalan Kapten Tendean, Desa Pulo Lor, kecamatan Jombang, Mudmainah (64).

Dan yang terparah saat ini, tabung gas elpiji 3 kg tersebut sudah kosong di toko nya. Kondisi ini sudah berlangsung selama 1 minggu. Otomatis, kelangkaan ini membuat harga tabung gas elpiji 3 kg tersebut menjadi mahal.

“Seminggu ini sudah kosong. Ya banyak warga kecewa mas, kan semua memang gak ada. Di toko-toko lain juga gak ada. Biasanya harganya itu Rp 16.500,-, terus naik jadi 17, dan naikkan lagi 18, terus saya jualnya sekarang Rp 20.000,-, kalau kemarin Rp 18.000,-.,” terang Mudmainah.

Saat ditanya apa alasan pangkalan mengenai kelangkaan elpiji tersebut, pihaknya mengatakan memang saat ini dari pihak agen sengaja melakukan pembatasan pada pangkalan dan pengecer.

“Katanya memang dibatasi, agennya bilang, memang sengaja dibatasi dari perusahaannya mas,” katanya.

Ketika ditanya apa yang menjadi harapan dari pengecer kepada pemerintah, mengenai adanya fenomena kelangkaan tabung gas elpiji 3 kg tersebut. Pihaknya berharap agar pemerintah segera menindak lanjuti adanya kelangkaan gas elpiji 3 kg di Jombang ini.

“Ya mintanya supaya bisa lancar lagi, supaya orang-orang bisa jualan,” pungkas Mudmainah.

Sontak kelangkaan elpiji ini, yang masih terjadi di Jombang ini, membuat sejumlah warung kopi, memilih beralih menggunakan kayu bakar untuk mengatasi kelangkaan elpiji yang masih terjadi meski operasi pasar gencar dilakukan oleh agen-agen elpiji.
Seperti halnya apa yang dialami oleh Faizuddin, bakul kopi asal Desa Pulo Lor. Faiz lebih memilih menggunakan kayu bakar, untuk mengatasi kelangkaan elpiji di Kecamatan Jombang tempat ia tinggal.

“Karena beberapa hari kemarin di toko tempat biasa saya beli elpiji kata penjual tokonya habis. Selama 4 hari ini saya gunakan kayu bakar,” terang Faiz.

Ketika ditanya apakah kelangkaan elpiji ini mempengaruhi pendapatan warung tempat ia berjualan kopi, Faiz menuturkan bahwa atas kelangkaan ini tentu mempengaruhi pendapatan warungnya, karena harga kayu bakar lebih mahal saat ini, dan tidak mungkin ia akan menaikkan harga kopi di warungnya.

“Kalau pake kayu bakar, biayanya lebih tinggi sedangkan kita tidak mungkin menaikkan harga secangkir kopi, karena takutnya pelanggan kita berpindah,” keluhnya.

Lantas, saat ditanya apa permintaannya pada pemerintah, pihaknya menegaskan bahwa pemerintah harus segera mengatasi kelangkaan gas elpiji di Jombang, karena operasi pasar yang dilakukan oleh agen juga tidak menjadi solusi mengatasi kelangkaan elpiji.

“Harapan saya sebagai bakul kopi, meminta pemerintah baik pusat maupun daerah agar sesegera mungkin untuk menyelesaikan masalah kelangkaan elpiji ini, sehingga kami yang melakukan kegiatan usaha kecil-kecilan ini, bisa kembali menggunakan elpiji,” tukas Faiz.(elo)