Jadi Lumbung Limbah B3, Jalan Desa Di Jombang Dibangun dengan Limbah

jalan desa yang ada di Desa Watudakon yang berbatasan dengan Desa Pojokrejo Kesamben Jombang

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Diperkirakan lebih dari 100 juta ton limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dibuang secara sembarangan di lahan terbuka, dekat permukiman, sawah, kebun, dan sungai di Jombang, selama lebih dari 40 tahun.

Diperkirakan lebih dari 100 juta ton limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa abu slag alumunium dibuang di sekitar permukiman warga, area persawahan dan perkebunan, serta sekitar sungai irigasi di Jombang.

Praktek pembuangan dan penimbunan limbah B3 ini diperkirakan telah berlangsung selama kurang lebih 40 tahun. Pembuangan limbah B3 ini terkait adanya aktivitas masyarakat yang mengolah limbah B3 abu slag alumunium menjadi bahan kebutuhan rumah tangga atau dilebur kembali menjadi batangan alumunium.

Kondisi ini diperparah dengan adanya puluhan ton limbah B3 yang dijadikan matrial urug jalan penghubung antara Desa Watudakon dan Desa Pojokrejo, tepatnya masih di Desa Watudakon. Tentu hal ini sangat berdampak pada warga setempat.
Meski demikian aparatur tingkat kecamatan hanya bisa melakukan pemantauan, untuk mengetahui seberapa besar dampak limbah B3 yang dijadikan matrial urugkan.

“Saya malam ada telpon dari warga, bahwa di daerah watudakon ada abu B3 yang di buang, terus langsung saya hubungi Kades, Sekdes untuk cek lokasi, suruh beritahukan ke saya suruh perintah ditolak,” ujar, Camat Kesamben, Johan Budi, pada sejumlah jurnalis, Rabu (29/8/2018).

Masih menurut Johan, menganai adanya persoalan limbah B3 tersebut, pihak Kecamatan juga sudah komunikasi ke DLH, dan rencananya pihak Dinas akan lakukan sidak.

“Kasi penegakan hukum dan kasi pengawasan akan merapat kelokasi, supaya tau bahwa saya proaktif susai pertemuan di Kecamatan Sumobito waktu itu dengan perwakilan Kementrian lingkungan hidup, karena limbah B3 ini dilarang untuk di buang di sembarang tempat,” tegas Johan.

Sementara itu warga setempat, Khudori (47), pihaknya mengaku mengeluh soal bau yang ditimbulkan adanya limbah B3 yang dijadikan matrial urug jalan.

“Baunya sangat menyengat, dan pedih dimata, abu ini bisa mengganggu kesehatan. Saya sebagai warga sangat resah, apalagi limbahnya dibuang dekat rumah warga, kalau memakai anggaran desa saya tidak tau,” pungkasnya.(elo)