Warga di Sekitar Pengolahan Limbah B3, Berpotensi Terkena Gangguan Saluran Pernafasan

Plt Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr Pudji Umbaran

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM:Adanya limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang diperkirakan lebih dari 100 juta ton, berupa abu slag alumunium yang dibuang di sekitar permukiman warga, termasuk matrial urug pembangunan jalan Desa, di Desa Watudakon Kesamben. Membuat hampir 95% warga yang ada di sekitar area pembuangan maupun pengolahan limbah B3 tersebut, terkena gangguan saluran pernafasan.

Gangguan saluran pernafasan ini, diketahui dari laporan hasil analisa penanganan limbah B3 di Jombang, oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dan Balai Besar Teknik Kesehatan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya. Hasil ini diperoleh dari pemeriksaan secara random terhadap pekerja, maupun udara dan air.

“Dari 21 sampel pekerja yang kita ambil secara random, 19 melalui tes pemeriksaan faal paru, dinyatakan memang terganggu, mulai dari ringan sampai berat. Jadi hanya 2 orang saja yang dinyatakan sehat,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr Pudji Umbaran, pada sejumlah jurnalis, Kamis (30/8/2018).

Masih menurut penjelasan Pudji, artinya debu alumunium yang dilebur oleh warga dalam proses produksi itu berdampak pada kesehatan. Dan itu harus segera disikapi, karena akan semakin meluas dampaknya.

“Kalu tidak semakin hari pasti semakin akan meluas dan tumpukan logam di dalam udara pun juga akan semakin besar, dan itu pasti berdampak,” terang Pudji.
Lantas bagaimana dampak limbah B3 ini, bisa meluas pada masyarakat di Jombang, dan apakah hal ini juga akan mengancam kesehatan warga lainnya yang ada di Jombang. Pudji menjelaskan, bahwa melalui udara gangguan pernafasan ini akan menyebar. Dan ini membahayakan masyarakat lainnya jika tidak segera ditangani.

“Mungkin saat ini masih pada bekerja, tetapi karena hembusan angin, maka akan berdampak pada masyarakat sekitar, dan itu bisa menyebabkan kesehatan masyarakat sekitar bisa terganggu. Dan kita tahu bahwa pernafasan adalah sumber kehidupan manusia selain air dan jantung,” tegas Pudji.

Selain dari hasil pemeriksaan pada pekerja, lanjut Pudji, dari hasil pemeriksaan udara yang ada di sekitar, lokasi peleburan abu slag alumunium, maupun dilokasi tempat peleburan abu slag alumunium, juga sudah diketahui hasilnya. Dan hasilnya sangat membahayakan kesehatan.

“Dari pemeriksaan sampel udara pada saat itu, memang udara disekitar yang agak jauh memang masih memenuhi baku mutu, tetapi dilingkungan tempat pekerja sudah melebihi baku mutu, artinya ini sudah diwaspadai kita semua,” papar Pudji.

Saat ditanya apa langkah yang diambil oleh Dinas Kesehatan dalam menyikapi limbah B3, yang ada di Kesamben maupun di Sumobito, pihaknya mengatakan akan melakukan sosialisasi pada sejumlah masyarakat mengenai dampak limbah B3.

“Dinas kesehatan dalam hal ini, mempunyai kewajiban pencegahan dalam sisi kesehatan kedepan. Karena itu kami melakukan penyuluhan pada warga, mengenai pengelolaan limbah B3 dengan benar dan sesuai dengan aturan hukum dan unsure kesehatan yang ada,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan ton limbah B3 dijadikan matrial urug, untuk pembangunan jalan Desa di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Jombang. Parahnya, kegiatan yang tergolong melanggar undan-undang tersebut, belum ada tindakan dari aparat penegak hukum setempat.(elo)