Indonesia Rumah Kita Bagian Ke 1

Oleh : Subadianto, Ketua Fraksi PAS DPRD Kab. Trenggalek

Akhir-akhir ini kita merasakan bahwa nilai-nilai Keindonesiaan kita telah terkoyak oleh sebuah situasi dengan adanya tarikan-tarikan dimana ada sekelompok orang yang menginginkan situasi zero sum game. Dimana ketika seseorang dalam kondisi menang inginnya menihilkan yang lain. Dari kedua belah pihak sama-sama ingin menjatuhkan. Padahal kalau kita lihat kembali dari sisi sosiologis dan historis Indonesia, maka tidak bisa dinegasikan peran dua kelompok: Nasionalis Religious yakni kelompok nasionalis yang berbasiskan agama. Dan Nasionalis-Sekuler yakni kelompok nasionalis yang basisnya bukan dari nilai-nilai agama. Kedua kelompok ini punya peran masing-masing dalam memperjuangkan Indonesia. Keduanya merupakan bagian entitas bangsa yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa ini. Karena itu, ketika ada salah satu pihak dari kedua kelompok tersebut melakukan klaim-klaim kebenaran menurut versinya dan menihilkan peran kelompok yang lain, maka akan lahir konflik dan ketegangan di tengah-tengah kita semua.

Kemajuan dan kemunduran sebuah negara-bangsa bukan hanya dilihat dari sisi ekonomi, tapi juga ditentukan oleh konstruksi sosial masyarakat. Dari sinilah pentingnya membangun modal sosial atau social capital yang baik. Tidak boleh hanya fokus membangun dimensi fisik-ekonominya saja, tapi juga harus membangun dimensi sosialnya atau modal sosial.

Ada tiga modal sosial yang penting untuk terus ditumbuhkan dan diperkokoh sebagai sebuah keluarga besar bangsa Indonesia. Pertama, Rasa Saling Memiliki. Setiap orang atau kelompok harus merasa memiliki Indonesia sebagai rumahnya. Tidak boleh ada orang atau kelompok yang merasa bukan bagian dari bangsa ini sehingga ia merasa tidak memiliki bangsa ini. Semua pihak harus merasa saling memiliki bangsa ini tanpa terkecuali. Dan sebaliknya, jangan juga ada orang atau kelompok yang merasa paling memiliki bangsa ini. Sehingga mereka mengklaim paling berhak atas bangsa ini dan di saat yang sama menuding orang atau kelompok lain tidak berhak atau bukan bagian dari bangsa ini.

Sikap mengklaim diri paling Indonesia, paling Pancasila, Paling NKRI dan paling berhak atas bangsa ini justru akan berujung pada krisis ketegangan dan konflik antar anak bangsa. Jika sikap itu diteruskan akan memecah belah persatuan bangsa dan mengoyak-koyak Keindonesiaan kita. Sehingga itu semua akan menyebabkan rumah Indonesia menjadi tidak nyaman untuk kita tempati bersama-sama lagi. Kita harus tegaskan kembali bahwa Indonesia adalah rumah kita semua. Kita harus saling merasa memiliki, sehingga kita saling menjaga dan merawatnya bersama-sama. (bersambung)