Ini Dia Trauma Healing Ala NU Peduli

MATARAM, KANALINDONESIA.COM: Koordinator NU Peduli Lombok, Anik Rifqoh mengatakan secara umum  psykologi sosial korban gempa Lombok yang di kunjungi dan  observasi masih berlangsung dengan normal. Interaksi psyko sosialnya masih berjalan dengan bgmn baik .

“Kasus traumatik sebelum dan sesudah gempa tidak terlalu nampak dibeberapa tempat yg diassesment NU Peduli,” kata Anik Rifqoh, melalui siaran pers yang diterima KANALINDONESIA.COM, Kamis (30/8/2018).

Ia menjelaskan  tentang arti penting harmonisasi hubungan sosial sebelum bencana tiba.  Sehingga, menurut dia, paska gempa mereka saling melakukan interaksi sebagai sesama korban gempa tanpa membuat sekat sosial.

“Ketakutan terhadap gempa ataupun efek -efek  kehilangan materi atas gempa itu ternyata intens mereka bicarakan  bersama meskipun mereka semua menjadi korban  sebelum psyko sosial itu muncul . Maka konten trauma healing psyko sosial  yang dilakukan harus membangkitkan kesadaran inter personal nya secara baik,”sambung Anik Rifqoh.

BACA: Lembaga Kajian Sosial Politik M16 Apresiasi Khairudin Mencari Keadilan Lewat DKPP

BACA :  Relawan Kita Jokowi Lakukan Aksi Sosial Kepada Korban Gempa Lombok

BACA: Rahma International Kuwait Salurkan Bantuan Kemanusiaan Korban Gempa Lombok

Psykolog muda NU ini kemudian memberikan ilustrasi bahwa korban gempa itu ibarat orang yang semrawut dan penuh masalah. Maka caranya jangan menghimpun masalah tersebut tetapi bagaimana mencairkan masalah itu, berpikiran positif terhadap Tuhan, termasuk mencari solusi bersama jika gempa itu muncul kembali,” tambahnya

Sementara, psykolog dari Tim NU Peduli, Rakimin menjelaskan, dalam berbagai kasus melakukan trauma healing pada korban bencana alam  akan lebih efektif jika didahului dengan bantuan kemanusiaan.

“Hal ini wajar karena para korban bencana alam memiliki harapan terhadap setiap orang yg punya kepedulian terhadap nasibnya,” jelasnya .

Selanjutnya  Rakimin mengatakan  dalam kasus korban gempa dilombok, orang tua jauh lebih sulit proses penyembuhannya untuk Therapi trauma healingnya dibanding anak -anak.

“Untuk kasus orang tua ini, tim trauma healing NU Peduli tidak  menyatukan para orang tua itu untuk di Therapi tapi didatangi satu persatu. Hal ini karena orang tua memiliki ego yang kuat. Meskipun dia butuh tapi tidak mau mengungkapkan problemnya jika harus disatukan,” ujar Rakimin.

Dalam konteks Gempa Lombok, lanjutnya, penanganan trauma healing untuk para orang tua akan efektif dilakukan pada malam hari dan tidak dilakukan dalam kerumunan ditenda pengungsian.

“Kita biasanya mencari celah dan kesempatan ketika ada pasien dewasa tidak berkerumun ditenda, saat itulah kita ajak ngobrol dan eksplorasi  uneq-uneqnya melalui metode katarsis ,” imbuhnya .

Baginya  proses penyembuhan trauma healing untuk korban bencana  memerlukan waktu kurang lebih satu bulan dengan per sekali kunjungan minimal 1,5 jam.

“Untuk anak -anak model pendekatan psyko sosial trauma healingnya lebih mudah karena rata-rata anak korban gempa yang dikunjungi tidak menunjukkan gejala traumatik akut atau phobia yang berlebihan paska gempa,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Tim NU Peduli , Baiq Mulianah menginformasikan saat ini sedang melakukan proses assesment untuk beberapa titik pengungsian yang dijadikan kawasan dampingan NU Peduli secara terpadu untuk enam bulan ke depan.

“Insya Alloh NU Peduli tetap melakukan upaya pemulihan dan rehabilitasi untuk dibeberapa titik  korban gempa dengan metode  5 Klaster yang sudah dipersiapkan,” kata Baiq Mulianah.(*)