Puncak Hari Jadi ke 824 Trenggalek, Tidak Ada Paesta Kembang Api

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Prosesi Hari Jadi ke 824 Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tahun 2018, yang selalu disuguhi dengan pentar kesenian wayang kulit itu ternyata tidak dibarengi dengan pertunjukan gemerlapnya Pesta Kembang Api yang rutin biasa dinikmati puluhan ribu penonton yang hadir dari seluruh wilayah di kota ‘kripik” ini. Alasannya tak lain karena Bupati Trenggalek tak ingin kemeriahan pesta itu melukai hati para pedagang Pasar Pon yang beberapa waktu yang lalu dilanda kebakaran hebat hingga meludeskan 700 an Kios yang ada.

Malam puncak peringatan ini tetap menyuguhkan kesenian wayang kulit yang selalu ditunggu warga Trenggalek dengan penampilan dalang kondang di Nusantara yakni Ki Manteb Sudarsono dengan lawakan Kirun Cs.

Emil Dardak menyampaikan, salah satu alasan ditiadakannya kegiatan pesta kembang api itu tak lain karena Trenggalek sedang berduka. Saat menyambut hari Jadinya ke 824 tahun 2018 ini ternyata musibah kebakaran hebat memusnahkan hampir 90 persen dagangan milik pedagang pasar tersebut.

“Kita sedang dilanda musibah, maka pesta kembang api kita tiadakan terlebih dahulu,” ungkapnya, Minggu, (2/8/2018) di Trenggalek.

Oleh sebab itu penghapusan agenda yang juga rutin di event besar itu menurutnya beralasan karena memberikan rasa hormat yang tinggi kepada para pelaku ekonomi disaat pihaknya sedang menata agar para pedagang itu bangkit kembali.

“Kita memotivasi mereka untuk berdagang kembali melalui relokasi lahan yang kita sudah siapkan dan sudah kembali bisa berjualan lagi,” terangnya.

Pihaknya memandang hal yang tak pantas , tatakala saudara para pedagang itu sedang berjuang memulihkan kondisinya termasuk psikis, namun pihaknya masih melonggarkan acara pesta khususnya kembang api.

“Ini bentuk ikut prihatin kita kepada kawan-kawan di pasar Pon dan tentunya beberapa langkah untuk menormlakan kembali aktivitas mereka juga sedang digarap,” tandasnya.

Lebih lanjut, Emil Dardak menyampaikan, hiburan seperti wayang kulit yang tersaji di cara puncak itu menjadi penghibur karena hampir keseluruhan warga Trenggalek merupakan penggemar wayang kulit.

“ wayang kulit itu justru malah menghibur mereka bagi yang sedang kena musibah, apalagi lawakan Kirun CS kemarin bisa sedikit mengobati luka mendalam bagi warga kita di pasar Pon,” lanjutnya.

Sementara itu, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan tampilan Ki Dalang Ki Manteb Sudarsono dari Kota Solo Jateng mampu menghipnotis penonton yang dengan kepiawaiannya memainkan alur cerita wayang yang dikemas dengan kondisi kekinian termasuk Trenggalek yang sedang membangun daerahnya.

Walaupun masyarakat banyak yang tidak tahu jika event pesta kembang api ditiadakan, namun akhirnya banyak warga yang memahami kemauan pemkab untuk meniadakan pesta yang ditunggunya tiap tahun jika memasuki momen puncak hari jadinya. (mil/ham)